Langsung ke konten utama

Kelompok 6: Pendekatan Naratif


 

Komentar

  1. Nilai-nilai caring dalam pelayanan keperawatan belum terinternalisasi dengan baik. Apakah fenomena ini berhubungan dengan kurangnya rasa percaya perawat terhadap nilai-nilai yang diajarkan? Siapakah responden yang tepat dalam penelitian kualitatif ini? Mahasiswa atau perawat pelayanan, jika pertanyaan penelitannya, bagaimanakan membentuk nilai-nilai caring yang kuat pada perawat?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut saya jika pertanyaan penelitiannya adalah bagaimana membentuk nilai-nilai caring yang kuat pada perawat harus dimulai dari proses pendidikan. sehingga partisipan yang sesuai adalah mahasiswa keperawatan.. namun jika pertanyaannya tentang bagaimana penerapan nilai-nilai caring maka partisipannya adalah perawat di tatanan pelayanan.. terimakasih

      Hapus
    2. saran saya, pilih partisipant yang mengalami langsung kejadian/peristiwa yang terkait dengan caring bu imelda, memang harus pemilihan yang tepat ya... untuk pendekatan naratif, berbeda dengan pendekatan yang lain, harus melibatkan partisipant dari awal untuk metode sampai penulisan melibatkan partisipant. pilihlah partisipant yang mengalami langsung dan saling berkaitan satu sama lain, jangan pilih A tapi dia tidak kenal dengan B... karena kronologis yang akan dilihat disini

      Hapus
    3. Menurut saya, tergantung dari pertanyaan penelitiannya. Kalau pendekatan naratif yang digunakan dalam penelitian yang akan dilakukan Bu Imelda, maka pertanyaan penelitian tersebut bunyinya masih kurang tepat dan penegasan tujuan penelitian akan menjadi kurang tepat nantinya sehingga bisa tidak tercapai. Pelu ditelaah lagi peneliti ingin mendapatkan cerita tentang apa?

      Hapus
  2. Mohon izin menggarisbawahi bahwa metode penelitian harus konsisten dan sejalan dengan pertanyaan dan tujuan penelitian. Karena metode penelitian kita lakukan sebagai upaya menjawab pertanyaan dari penelitian yang kita lakukan.

    BalasHapus
  3. Izin bertanya, untuk narrative study ini, apakah tetap memerlukan saturasi data? Karena partisipan berfokus hanya pada 1 orang atau sebagian kecil lainnya. Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih pertanyaannya mba ari... salah satu karakteristik dari pendekatan naratif adalah eksplorasi kehidupan dan menceritakan pengalaman individu tentang suatu episode peristiwa (Creswell & Poth, 2018) yang kemudian diceritakan kembali oleh peneliti dengan melibatkan partisipant. Focusnya pada studi terhadap satu atau dua individu (Creswell, 2013 dalam Afiyanti & Rachmawati, 2014) sehingga tidak memerlukan saturasi data mba ari...

      Hapus
    2. Berbeda dengan penelitian fenomenologi, ethnografi dan grounded, pada narrative study tidak memerlukan saturasi data karena pada narrative partisipan hanya 1 atau 2 orang, dan cerita bisa didapatkan dari mana saja bisa video, catatan harian, wawancara dll dan kemudian dianalisis secara benar sehingga menjadi sebuah laporan penelitian. Yang paling penting dalam naratif adalah kronologis dan kesinambungan antara past, saat ini dan masa depan.

      Hapus
  4. narrative tidak ada saturasi data .. tujuan penelitian ini adalah untuk mengekplorasi cerita pengalaman partisipan baik individu atau sekelompok kecil orang sesuai dengan fenomena kejadian yang akan diekplorasi.. satu individu juga bisa bu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya ingin menambahkan jawaban dari Bu Asmi, penelitian dengan pendekatan naratif itu sangat khas kisah atau kejadian yang dieksplorasi sehingga harus menggambarkan secara orisinil pengalaman individu jadi tidak memerlukan saturasi.

      Hapus
  5. Ijin bertanya kepada kelompok 6, mohon dijelaskan lebih lanjut adakah ada perbedaan yang spesifik antara pendekatan naratif dengan pendekatan fenomenologi? Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perbedaan spesisfik adalah bahwa fenomenologi berfokus pada pengalaman kehidupan yang disadari oleh subjek penelitian, sementara naratif merupakan cerita yang difokuskan terhadap kronologis kisah atau pengalaman hidup partisipan

      Hapus
    2. Di buku Afitanti dan Rachmawati (2014) pada hal 93 dijelaskan secara rinci perbedaan pendekatan narrative dan fenomenologi antara lain :
      Pada pendekatan narrative :
      - Tujuan berfokus pada menceritakan kronologis kehidupan seseorang secara rinci dan berurutan berdasarkan waktu, tempat, dan urutan peristiwa kejadian yang dialami
      - Partisipan bisa satu, dua, atau sekelompok kecil orang dengan pengalaman kejadian yang sama tanpa ada saturasi data
      Sedangkan pada fenomenologi :
      - Tujuannya adalah menilai bagaimana partisipan memandang, melihat, mempersepsikan perasaan, dan memaknai pengalaman yang dilaluinya
      - Partisipan sesuai dengan prinsip saturasi data. Jika sudah tidak ada informasi baru yang ditemukan dalam proses indepth interveiew maka tidak perlu menambah partisipan lagi

      Hapus
    3. Perlu dipahami bahwa penelitian naratif digunakan apabila peneliti ingin menjabarkan kehidupan individu atau kelompok yang diteliti, sedangkan penelitian fenomenologi dilakukan ketika peneliti ingin memahami suatu fenomena dari sudut pandang individu atau kelompok tertentu yang mengalaminya.

      Hapus
  6. bagaimana mengatasi keterbatasn penelitian terkait dengan implikasi negatif terkait kejafian traumatis responden? dan bagaiana kajian etik terhadap hal tersebut?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ijin menjawab jikalau dalam wawancara didapatkan masih kurang mencapai tujuan penelitian. Maka bisa dilakukan teknik pengumpulan data dengan meminta partisipan merekam cerita mereka dalam jurnal atau diary, dan mengumpulkan data melalui cerita mereka dari para anggota keluarga, dokumentasi dari foto-foto partisipan sesuai kejadian yang berhubungan dengan penelitian, dan surat atau korespondensi (Creswell, 2013).

      Hapus
    2. terimakasih mba indanah pertanyaannya, peristiwa yang diangkat tentu tidak selalu terkait dengan kejadian yang traumatis, namun apabila itu terkait dengan hal traumatis, tentu harus dijelaskan kepada partisipant, oleht karena itu dari awal proses hingga akhir, kolaboratif dengan partisipant menjadi karakter dari pendekatan ini

      Hapus
    3. maksud saya kolaboratif dengan partisipan menjadi ciri karakteristik dari pendekatan naratif

      Hapus
    4. Terima kasih pertanyaan dari Bu Indahna, kita tahu bahwa prinsip etik harus kita junjung tinggi dalam penelitian yang kita lakukan. Prinsip Beneficiency, bahwa penelitian yang kita lakukan memang bermanfaat. Makanya kita perlu menjelaskan manfaat, prosedur penelitian kepada partisipan. Partisipan bebas untuk ikut ataupun menolak penelitian. Prinsip Maleficience, bahwa penelitian yang kita lakukan tidak merugikan maka kita harus punya alternatif solusi, ketika pertanyaan mengingatkan partisipan terhadap pengalaman traumatis, maka kita bisa hentikan dulu dan melakukan intrevensi untuk menenangkan partisipan, jika sudah maka proses penelitian bisa dilanjutkan.

      Hapus
    5. Dalam proses pengumpulan data wawancara yang mengeksplorasi kejadian yang traumatis maka prinsip etik Beneficence dan Nonmaleficence (do not harm) harus diperhatikan oleh peneliti. Cara yang dapat dilakukan antara lain :
      - jika menyebabkan respon traumatis maka peneliti dapat menghentikan wawancara agar tidak membahayakan partisipan, menundanya dilain kesempatan jika partisipan sudah siap untuk bercerita
      - Menyediakan konsultan psikologis atau rujukan yang dapat dimanfaatkan oleh partisipan jika membutuhkan
      - Menyampaikan kepada partisipan bahwa peneliti menghargai autonomi dari partisipan jika ingin menghentikan proses penelitian atau mundur dari penelitian jika partisipan merasa tidak nyaman

      Hapus
    6. Menambahkan sedikit untuk pertanyaan mb Indanah tentang strategi mengatasi keterbatasan penelitian naratif dikaitkan dengan pengalaman traumatis partisipan, sebenarnya dalam hal ini peneliti harus cukup peka dan 'aware' untuk melindungi partisipan yang mungkin merasa rentan untuk menceritakan kisah mereka sehingga jika dilihat dari kajian etik, peneliti sebaiknya menunda atau memberi kesempatan kepada partisipan untuk melanjutkan pengumpulan data jika partisipan merasa sudah mampu untuk menceritakan pengalamannya. Dan jika ternyata partisipan memang tidak mampu atau tidak bersedia maka partisipan memiliki hak untuk menolak atau menghentikan keikutsertaannya dalam penelitian ini.

      Hapus
  7. terima kasih mba ikeu.. dari tujuan sudah berbeda ya mba.. kalau fenomenologi menilai bagaimana orang melihat atau memandang hidupnya di masa lalu dan jumlah partisipant mencapai saturasi. sedangkan naratif fokus pada kronologis kehidupan (ada bagian past, now dan future) ada klimaks dari sebuah cerita, sehingga partisipan pun tunggal atau sejumlah kecil saja (tidak ada saturasi)

    BalasHapus
  8. tambahan lainnya yang membedakan adalah di naratif, peneliti dapat menemukan tingkat objektif dari analisisnya karena ada proses restori (menceritakan ulang) dan validasi kembali oleh partisipant. sedangkan di fenomenologi peneliti lebih bersikap terbuka terhadap penilaian sudut pandang partisipant, sehingga membutuhkan validasi data berulang-ulang

    BalasHapus
  9. Pada tahapan penelitian setelah mengumpulkan cerita adalah destroyer itu bentuk riilnya seperti apa? Apakah peneltian naratif juga mrmberlakukan interview mendalam sampai kejenuhan cerita? Apa ini sama dengan penelitian novel?

    BalasHapus
    Balasan
    1. tidak sampai jenuh pak... wawancara mendalam sesuai dengan kesepakatan dengan partisipan karena kan melibatkan partisipan di setiap langkahnya. yang pasti, jika semua kronologis alur cerita sudah jelas dan ada penyelesaian dari puncak kronologis tersebut

      Hapus
    2. mungkin maksud pak karmin bukan destroyer tapi restory ya... begini pak karmin, terkadang... partisipan bercerita tidak berurutan, makanya setelah partisipan menyelesaikan cerita/kisahnya, peneliti melakukan restory (menceritakan ulang) sesuai urutan kronologisnya (waktu, seting tempat,dll) sehingga tampak jelas awal cerita, klimaks cerita dan akhir cerita.

      Hapus
  10. Pada pendekatan naratif..penting sekali kita mengetahui kronologis peristiwa. Ada 3 dimensi penelitian naratif yaitu personal, sosial (interaksi): masa lampau, saat ini dan masa depan dan tempat (situasi). Di luar kronologis, peneliti mendapatkan tema yang rinci yang muncul dari kisah yang akan disajikan dalam pembahasan mengenai makna kisah tersebut. Jadi analisis data naratif ditambahkan elemen dekonstruksi kisah (Afiyanti & Rachmawatim, 2014)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Phenomenology

 LInk ppt :  Phenomenology     UNIVERSITAS INDONESIA         METODE PENELITIAN KUALITATIF : FENOMENOLOGI (untuk memenuhi penugasan mata kuliah Metode Penelitian Kualitatif )           Oleh: KELOMPOK 2   Arianti (NPM : 2106769931 ) Dewy Haryanti Parman (NPM : 2006566242) Elsa Naviati (NPM : 2006512492 ) Ikeu Nurhidayah (NPM : 2106683076 ) Indanah (NPM : 2106683082)         FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN PROGRAM STUDI S3 ILMU KEPERAWATAN FEBRUARI 2022 KATA PENGANTAR   Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas kehendak-Nya penulis dapat menyusun tugas kelompok “Metode Penelitian Kualitatif: Fenomenologi”. Penulis mengucapkan terimakasih kepada Koordinator Mata Kuliah Metode Penelitian Kualitatif, Prof. Dra. Setyowati, S.Kp...

KELP2 : PENGUMPULAN DATA OBSERVASI

      MK METODOLOGI KUALITATIF PENGUMPULAN DATA OBSERVASI DALAM METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF   Kelompok 2 : Imelda Liana Ritonga Jathu Dwi Wahyuni Nelly Hermala Dewi Suroso Umi Eliawati Rachmalia M.Khotibul Umam     Pembimbing : Dr. Imami Nur Rahmawati, SKp, MSc       PROGRAM STUDI DOKTORAL KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS INDONESIA T.A. 2021/2022   Kata Pengantar       Segala puji syukur kami panjatkan kepada Alloh SWT atas rahmat dan karunianya sehingga makalah dengan topik “Pengumpulan Data Observasi Dalam Metodologi Penelitian Kualitatif   “ dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Metodologi Kualitatif pada Program Doktoral Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.   Kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada : 1.       Prof. Dra Setyowati, M.Ap...