- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Blog ini digunakan sebagai media diskusi mahasiswa dan dosen dalam Mata Kuliah (MK) Metode Penelitian Kualitatif. MK Metode Penelitian Kualitatif ini memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mempelajari kembali, menggali, dan memahami berbagai jenis metode riset kualitatif tingkat lanjut yang dapat dipilih sebagai alternatif dalam riset keperawatan.
Nilai-nilai caring dalam pelayanan keperawatan belum terinternalisasi dengan baik. Apakah fenomena ini berhubungan dengan kurangnya rasa percaya perawat terhadap nilai-nilai yang diajarkan? Siapakah responden yang tepat dalam penelitian kualitatif ini? Mahasiswa atau perawat pelayanan, jika pertanyaan penelitannya, bagaimanakan membentuk nilai-nilai caring yang kuat pada perawat?
BalasHapusMenurut saya jika pertanyaan penelitiannya adalah bagaimana membentuk nilai-nilai caring yang kuat pada perawat harus dimulai dari proses pendidikan. sehingga partisipan yang sesuai adalah mahasiswa keperawatan.. namun jika pertanyaannya tentang bagaimana penerapan nilai-nilai caring maka partisipannya adalah perawat di tatanan pelayanan.. terimakasih
Hapussaran saya, pilih partisipant yang mengalami langsung kejadian/peristiwa yang terkait dengan caring bu imelda, memang harus pemilihan yang tepat ya... untuk pendekatan naratif, berbeda dengan pendekatan yang lain, harus melibatkan partisipant dari awal untuk metode sampai penulisan melibatkan partisipant. pilihlah partisipant yang mengalami langsung dan saling berkaitan satu sama lain, jangan pilih A tapi dia tidak kenal dengan B... karena kronologis yang akan dilihat disini
HapusMenurut saya, tergantung dari pertanyaan penelitiannya. Kalau pendekatan naratif yang digunakan dalam penelitian yang akan dilakukan Bu Imelda, maka pertanyaan penelitian tersebut bunyinya masih kurang tepat dan penegasan tujuan penelitian akan menjadi kurang tepat nantinya sehingga bisa tidak tercapai. Pelu ditelaah lagi peneliti ingin mendapatkan cerita tentang apa?
HapusMohon izin menggarisbawahi bahwa metode penelitian harus konsisten dan sejalan dengan pertanyaan dan tujuan penelitian. Karena metode penelitian kita lakukan sebagai upaya menjawab pertanyaan dari penelitian yang kita lakukan.
BalasHapusIzin bertanya, untuk narrative study ini, apakah tetap memerlukan saturasi data? Karena partisipan berfokus hanya pada 1 orang atau sebagian kecil lainnya. Terima kasih
BalasHapusterima kasih pertanyaannya mba ari... salah satu karakteristik dari pendekatan naratif adalah eksplorasi kehidupan dan menceritakan pengalaman individu tentang suatu episode peristiwa (Creswell & Poth, 2018) yang kemudian diceritakan kembali oleh peneliti dengan melibatkan partisipant. Focusnya pada studi terhadap satu atau dua individu (Creswell, 2013 dalam Afiyanti & Rachmawati, 2014) sehingga tidak memerlukan saturasi data mba ari...
HapusBerbeda dengan penelitian fenomenologi, ethnografi dan grounded, pada narrative study tidak memerlukan saturasi data karena pada narrative partisipan hanya 1 atau 2 orang, dan cerita bisa didapatkan dari mana saja bisa video, catatan harian, wawancara dll dan kemudian dianalisis secara benar sehingga menjadi sebuah laporan penelitian. Yang paling penting dalam naratif adalah kronologis dan kesinambungan antara past, saat ini dan masa depan.
Hapusnarrative tidak ada saturasi data .. tujuan penelitian ini adalah untuk mengekplorasi cerita pengalaman partisipan baik individu atau sekelompok kecil orang sesuai dengan fenomena kejadian yang akan diekplorasi.. satu individu juga bisa bu
BalasHapusSaya ingin menambahkan jawaban dari Bu Asmi, penelitian dengan pendekatan naratif itu sangat khas kisah atau kejadian yang dieksplorasi sehingga harus menggambarkan secara orisinil pengalaman individu jadi tidak memerlukan saturasi.
HapusIjin bertanya kepada kelompok 6, mohon dijelaskan lebih lanjut adakah ada perbedaan yang spesifik antara pendekatan naratif dengan pendekatan fenomenologi? Terimakasih
BalasHapusPerbedaan spesisfik adalah bahwa fenomenologi berfokus pada pengalaman kehidupan yang disadari oleh subjek penelitian, sementara naratif merupakan cerita yang difokuskan terhadap kronologis kisah atau pengalaman hidup partisipan
HapusDi buku Afitanti dan Rachmawati (2014) pada hal 93 dijelaskan secara rinci perbedaan pendekatan narrative dan fenomenologi antara lain :
HapusPada pendekatan narrative :
- Tujuan berfokus pada menceritakan kronologis kehidupan seseorang secara rinci dan berurutan berdasarkan waktu, tempat, dan urutan peristiwa kejadian yang dialami
- Partisipan bisa satu, dua, atau sekelompok kecil orang dengan pengalaman kejadian yang sama tanpa ada saturasi data
Sedangkan pada fenomenologi :
- Tujuannya adalah menilai bagaimana partisipan memandang, melihat, mempersepsikan perasaan, dan memaknai pengalaman yang dilaluinya
- Partisipan sesuai dengan prinsip saturasi data. Jika sudah tidak ada informasi baru yang ditemukan dalam proses indepth interveiew maka tidak perlu menambah partisipan lagi
Perlu dipahami bahwa penelitian naratif digunakan apabila peneliti ingin menjabarkan kehidupan individu atau kelompok yang diteliti, sedangkan penelitian fenomenologi dilakukan ketika peneliti ingin memahami suatu fenomena dari sudut pandang individu atau kelompok tertentu yang mengalaminya.
Hapusbagaimana mengatasi keterbatasn penelitian terkait dengan implikasi negatif terkait kejafian traumatis responden? dan bagaiana kajian etik terhadap hal tersebut?
BalasHapusIjin menjawab jikalau dalam wawancara didapatkan masih kurang mencapai tujuan penelitian. Maka bisa dilakukan teknik pengumpulan data dengan meminta partisipan merekam cerita mereka dalam jurnal atau diary, dan mengumpulkan data melalui cerita mereka dari para anggota keluarga, dokumentasi dari foto-foto partisipan sesuai kejadian yang berhubungan dengan penelitian, dan surat atau korespondensi (Creswell, 2013).
Hapusterimakasih mba indanah pertanyaannya, peristiwa yang diangkat tentu tidak selalu terkait dengan kejadian yang traumatis, namun apabila itu terkait dengan hal traumatis, tentu harus dijelaskan kepada partisipant, oleht karena itu dari awal proses hingga akhir, kolaboratif dengan partisipant menjadi karakter dari pendekatan ini
Hapusmaksud saya kolaboratif dengan partisipan menjadi ciri karakteristik dari pendekatan naratif
HapusTerima kasih pertanyaan dari Bu Indahna, kita tahu bahwa prinsip etik harus kita junjung tinggi dalam penelitian yang kita lakukan. Prinsip Beneficiency, bahwa penelitian yang kita lakukan memang bermanfaat. Makanya kita perlu menjelaskan manfaat, prosedur penelitian kepada partisipan. Partisipan bebas untuk ikut ataupun menolak penelitian. Prinsip Maleficience, bahwa penelitian yang kita lakukan tidak merugikan maka kita harus punya alternatif solusi, ketika pertanyaan mengingatkan partisipan terhadap pengalaman traumatis, maka kita bisa hentikan dulu dan melakukan intrevensi untuk menenangkan partisipan, jika sudah maka proses penelitian bisa dilanjutkan.
HapusDalam proses pengumpulan data wawancara yang mengeksplorasi kejadian yang traumatis maka prinsip etik Beneficence dan Nonmaleficence (do not harm) harus diperhatikan oleh peneliti. Cara yang dapat dilakukan antara lain :
Hapus- jika menyebabkan respon traumatis maka peneliti dapat menghentikan wawancara agar tidak membahayakan partisipan, menundanya dilain kesempatan jika partisipan sudah siap untuk bercerita
- Menyediakan konsultan psikologis atau rujukan yang dapat dimanfaatkan oleh partisipan jika membutuhkan
- Menyampaikan kepada partisipan bahwa peneliti menghargai autonomi dari partisipan jika ingin menghentikan proses penelitian atau mundur dari penelitian jika partisipan merasa tidak nyaman
Menambahkan sedikit untuk pertanyaan mb Indanah tentang strategi mengatasi keterbatasan penelitian naratif dikaitkan dengan pengalaman traumatis partisipan, sebenarnya dalam hal ini peneliti harus cukup peka dan 'aware' untuk melindungi partisipan yang mungkin merasa rentan untuk menceritakan kisah mereka sehingga jika dilihat dari kajian etik, peneliti sebaiknya menunda atau memberi kesempatan kepada partisipan untuk melanjutkan pengumpulan data jika partisipan merasa sudah mampu untuk menceritakan pengalamannya. Dan jika ternyata partisipan memang tidak mampu atau tidak bersedia maka partisipan memiliki hak untuk menolak atau menghentikan keikutsertaannya dalam penelitian ini.
Hapusterima kasih mba ikeu.. dari tujuan sudah berbeda ya mba.. kalau fenomenologi menilai bagaimana orang melihat atau memandang hidupnya di masa lalu dan jumlah partisipant mencapai saturasi. sedangkan naratif fokus pada kronologis kehidupan (ada bagian past, now dan future) ada klimaks dari sebuah cerita, sehingga partisipan pun tunggal atau sejumlah kecil saja (tidak ada saturasi)
BalasHapustambahan lainnya yang membedakan adalah di naratif, peneliti dapat menemukan tingkat objektif dari analisisnya karena ada proses restori (menceritakan ulang) dan validasi kembali oleh partisipant. sedangkan di fenomenologi peneliti lebih bersikap terbuka terhadap penilaian sudut pandang partisipant, sehingga membutuhkan validasi data berulang-ulang
BalasHapusPada tahapan penelitian setelah mengumpulkan cerita adalah destroyer itu bentuk riilnya seperti apa? Apakah peneltian naratif juga mrmberlakukan interview mendalam sampai kejenuhan cerita? Apa ini sama dengan penelitian novel?
BalasHapustidak sampai jenuh pak... wawancara mendalam sesuai dengan kesepakatan dengan partisipan karena kan melibatkan partisipan di setiap langkahnya. yang pasti, jika semua kronologis alur cerita sudah jelas dan ada penyelesaian dari puncak kronologis tersebut
Hapusmungkin maksud pak karmin bukan destroyer tapi restory ya... begini pak karmin, terkadang... partisipan bercerita tidak berurutan, makanya setelah partisipan menyelesaikan cerita/kisahnya, peneliti melakukan restory (menceritakan ulang) sesuai urutan kronologisnya (waktu, seting tempat,dll) sehingga tampak jelas awal cerita, klimaks cerita dan akhir cerita.
HapusPada pendekatan naratif..penting sekali kita mengetahui kronologis peristiwa. Ada 3 dimensi penelitian naratif yaitu personal, sosial (interaksi): masa lampau, saat ini dan masa depan dan tempat (situasi). Di luar kronologis, peneliti mendapatkan tema yang rinci yang muncul dari kisah yang akan disajikan dalam pembahasan mengenai makna kisah tersebut. Jadi analisis data naratif ditambahkan elemen dekonstruksi kisah (Afiyanti & Rachmawatim, 2014)
BalasHapus