Langsung ke konten utama

Phenomenology

 LInk ppt : Phenomenology

 





 

UNIVERSITAS INDONESIA

 

 

 

 

METODE PENELITIAN KUALITATIF : FENOMENOLOGI

(untuk memenuhi penugasan mata kuliah Metode Penelitian Kualitatif )

 

 

 

 

 

Oleh:

KELOMPOK 2

 

Arianti

(NPM : 2106769931)

Dewy Haryanti Parman

(NPM : 2006566242)

Elsa Naviati

(NPM : 2006512492)

Ikeu Nurhidayah

(NPM : 2106683076)

Indanah

(NPM : 2106683082)

 

 

 

 

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

PROGRAM STUDI S3 ILMU KEPERAWATAN

FEBRUARI 2022

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas kehendak-Nya penulis dapat menyusun tugas kelompok “Metode Penelitian Kualitatif: Fenomenologi”. Penulis mengucapkan terimakasih kepada Koordinator Mata Kuliah Metode Penelitian Kualitatif, Prof. Dra. Setyowati, S.Kp., M.App.Sc, Ph.D yang telah memberikan bimbingan, masukan, dan diskusi yang intensif, sehingga kelompok dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik.

Pendekatan fenomenologi tidak hanya sebagai pendekatan filsafat tapi juga sebagai pendekatan riset, yang mengijinkan disiplin keperawatan untuk mengeksplor dan menggambarkan fenomena dalam dunia keperawatan. Praktik keperawatan profesional sangat terkait dengan pengalaman hidup masyarakat, sehingga fenomenologi sebagai pendekatan riset sangat sesuai untuk investigasi fenomena penting di dunia keperawatan.  Oleh karena itu, pemahaman mengenai pendekatan fenomenologi sebagai salah satu inquiry method sangat penting dimiliki oleh mahasiswa pada Program Doktor Ilmu Keperawatan, sebagai insan peneliti dan ilmuwan keperawatan di Indonesia. Saran dan masukan sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah ini.

 

Depok, 14 Februari 2022

Penulis

 

Kelompok II

 

 


 

BAB 1 PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Melakukan penelitian ilmu-ilmu sosial termasuk ilmu keperawatan dengan menggunakan metode kualitatif menjadi kebutuhan saat ini. Penelitian kualitatif adalah penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian.

Secara umum penelitian kualitatif sendiri dikelompokkan menjadi 5 (lima) pendekatan besar yakni 1) biografi; 2) fenomenologi; 3) ground theory; 4) etnografi; dan 5) studi kasus. Pendekatan fenomenologi semakin sering digunakan sebagai metode penelitian keperawatan. Fenomenologi merupakan pendekatan ilmiah yang bertujuan untuk menelaah dan mendeskripsikan fenomena sebagaimana fenomena tersebut dialami secara langsung tanpa adanya proses interpretasi dan abstraksi. Terdapat banyak ahli fenomenologi dengan pemahaman yang berbeda-beda baik sebagai filosofi maupun sebagai metode penelitian.

Karena nature teoritisnya, fenomenologi telah menjadi pandangan dunia filosofis yang penting dalam profesi keperawatan. Fenomenologi tidak hanya menuntut peneliti keperawatan untuk memahaminya sebagai filosofi tetapi juga sebagai fenomena yang terikat pada kesadaran manusia dalam bentuk pengalaman hidup. Terkait dengan nursing’s involement dalam examining phenomena pada kerangka perawatan kesehatan kontekstual, fenomenologi tidak hanya kondusif untuk penemuan informasi tetapi juga pengembangan pengetahuan keperawatan yang penting untuk profesi.

Pendekatan fenomenologis semakin banyak digunakan sebagai metode untuk studi penelitian keperawatan karena terdiri dari alat pengumpulan data seperti pertanyaan terbuka dan isyarat observasional yang sesuai untuk praktik dan metodologi penelitian keperawatan. Fenomenologi juga berguna bagi peneliti perawat kualitatif karena fenomenologi dapat menjadi sarana yang efektif untuk menjelaskan dan mengklarifikasi isu-isu mendasar di sektor perawatan kesehatan.

Ilmu keperawatan sangat berkaitan dengan merawat individu secara holistik, banyak perawat mengakui pentingnya pengalaman individu dan mendukung mereka dalam melakukan kontrol atas kesehatan dan kesejahteraan mereka. Berdasarkan pemahaman ini, fenomenologi memainkan peran penting dalam profesi keperawatan karena tidak hanya menghargai pengalaman individu tetapi juga prinsip dan modalitas penyembuhan holistik mereka ke dalam kehidupan sehari-hari dan praktik klinis.

Oleh karena itu, dengan memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang filosofi fenomenologis, perawat tidak hanya mampu membuat keputusan klinis yang penting tetapi juga pendekatan inovatif dan progresif yang penting untuk meningkatkan proses perawatan pasien di sektor perawatan kesehatan klinis yang penting untuk mengembangkan pengetahuan keperawatan untuk peningkatan kualitas layanan keperawatan di masyarakat.

 

  1. Tujuan

Penulisan makalah ini bertujuan untuk menjelaskan pendekatan fenomenologi dibandingkan dengan pendekatan kualitatif yang lain seperti etnografi, case study, narrative, grounded theory, dengan mempertimbangkan kelebihan dan keterbatasan dalam riset keperawatan.

 

 

 

 

 


 

BAB 2

LANDASAN TEORI: PENDEKATAN FENOMENOLOGI

 

A.    Definisi

Istilah “phenomenology” berasal dari bahasa Yunani “phainomenon” yang berarti ‘appearance’ (konsep pertama dikembangkan oleh filsuf Imanual Kant) (Holloway & Wheeler, 2010). Pada awalnya, fenomenologi merupakan pendekatan filosofi dan tidak spesifik sebagai inquiry method (Holloway & Wheeler, 2010). Fenomenologi diperkenalkan pertama kali pada awal ke-20 oleh Edmund Husserl (tahun 1859-1938). Filsafat fenomenologi sebagiannya mencakup pertanyaan epistemologis - tentang teori pengetahuan - yaitu tentang “bagaimana kita tahu”, hubungan individu yang tahu dan apa yang bisa diketahui (McLeod, 2001). Hal ini juga terkoneksi dengan pertanyaan ontologis: ‘what is being’. Pertanyaan ontologis ini berkaitan dengan sifat realitas dan pengetahuan kita tentangnya, ‘how things really are (bagaimana keadaan sebenarnya)’. Giorgi dan Giorgi (2003) kemudian menyebutkan bahwa fenomenologi adalah “a study of consciousness”.

Fenomenologi kemudian berkembang tidak hanya sebagai pendekatan filsafat tapi juga sebagai pendekatan riset, yang mengijinkan disiplin keperawatan untuk mengeksplor dan menggambarkan fenomena (Streubert & Carpenter, 2011). Karena praktik keperawatan profesional terkait dengan pengalaman hidup masyarakat, fenomenologi sebagai pendekatan riset sangat cocok untuk investigasi fenomena penting di dunia keperawatan (Streubert & Carpenter, 2011). Pendapat Husserl tentang fenomenologi adalah memberikan deskripsi, refleksi, interpretasi dan modus riset yang menyampaikan intisari dari pengalaman kehidupan individu yang diteliti (Afiyati & Rachmawati, 2014). Pendapat lain dari Streubert dan Carpenter (2011) menyatakan fenomenologi merupakan studi yang bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena atau peristiwa tertentu, seperti pengalaman hidup dengan mencoba memberikan gambaran langsung tentang pengalaman apa adanya.

Studi fenomenologis menggambarkan hal bermakna yang terjadi  pada individu sebagai fenomena dari pengalaman hidup mereka. Fenomenologi berfokus menggambarkan partisipan yang mengalami suatu fenomena yang sama. Tujuan dasar fenomenologi adalah untuk mereduksi pengalaman individu menjadi deskripsi. Peneliti kualitatif mengidentifikasi fenomena bahwa pengalaman manusia merupakan sebuah objek. Pengalaman manusia ini mungkin fenomena seperti insomnia, ditinggalkan, kemarahan, kesedihan, atau menjalani prosedur operasi. Peneliti kemudian mengumpulkan data dari orang-orang yang telah mengalami peristiwa tersebut dan mengembangkan deskripsi gabungan dari pengalaman seluruh individu. Deskripsi ini terdiri dari “apa” yang mereka alami dan “bagaimana” mereka mengalaminya (May & Holmes, 2012). Riset ini membantu untuk memahami pengalaman orang lain dan makna yang didapat atau dirasakan dengan melihat dunia individu tersebut melalui pandangan orang lain (Cresswell & Pot, 2018).

B.    Sejarah dan Latar Belakang Fenomenologi

Fenomenologi merupakan suatu pendekatan riset dan suatu filosofi Eropa yang diperkenalkan pertama kali pada awal abad ke-20 oleh Edmund Husserl tepatnya pada tahun 1859-1938. dan muridnya Heidegger pada tahun 1889-1976. Masing-masing mengambil pendekatan yang sedikit berbeda. Fenomenologi populer di bidang sosial dan ilmu kesehatan, khususnya dalam sosiologi keperawatan dan ilmu kesehatan dan pendidikan. Pendapat Husserl tentang perspektif fenomenologi adalah memberikan deskripsi, refleksi, interpretasi, dan modus riset yang menyampaikan intisari dari pengalaman kehidupan individu yang diteliti (Afiyati & Rachmawati, 2014). Husserl lebih suka menggambarkan fenomena dengan interpretasi minimal, percaya bahwa kemurnian deskripsi itu tergantung pada peneliti yang mampu mengesampingkan pra-anggapan mereka saat menyelidiki sehingga mengutamakan hanya pengalaman para peserta. Sedangkan Heidegger, mengambil sikap yang lebih interpretatif yang mengakui latar belakang peneliti dan pengetahuan yang melekat pada fenomena tersebut; dalam melakukan ini ada interpretasi dari pengalaman partisipan yang dalam beberapa hal diinterpretasikan oleh peneliti itu sendiri. Dengan demikian kedua pendekatan ini telah dikenal sebagai fenomenologi deskriptif (Husserlian dan fenomenologi interpretatif (Heideggerian) (Cresswell & Pot, 2018).

Menurut Afiyati dan Rachmawati (2014), fenomenologi berkontribusi mendalami pemahaman tentang berbagai perilaku, tindakan dan gagasan masing-masing individu terhadap dunia kehidupannya melalui sudut pandangnya yang diketahui dan diterima secara benar. Lebih lanjut, Van Manen (2007) menjelaskan bahwa pengalaman individu berdasarkan pendekatan fenomenologi adalah berbagai persepsi individu tentang keberadaannya (existence) di dunia, kepercayaan dan nilai-nilai yang dimilikinya tentang sesuatu dari sudut pandangnya.

Menurut Afiyati dan Rachmawati (2014), para fenomenologis menyatakan bahwa pengalaman yang dimaksud untuk dapat diteliti dengan pendekatan fenomenologi adalah pengalaman yang bersifat universal yang dialami oleh seorang individu terhadap suatu fenomen yang dialaminya dalam kehidupan sehari-hari. Afiyati dan Rachmawati (2014) mencontohkan tentang pengalaman seorang perempuan sebagai seorang ibu. Peneliti mengumpulkan informasi atau data dari para perempuan yang mengalami pengalaman tersebut. Hasil temuan merupakan penjelasan-penjelasan tentang “apa”, dan “bagaimana” para perempuan mengalami pengalamannya tersebut (Afiyati & Rachmawati, 2014).

C.    Fokus Pendekatan Fenomenologi

Fokus pendekatan fenomenologi adalah memahami keunikan fenomena dunia kehidupan individu, bahwa realitas dunia kehidupan masing-masing individu itu berbeda, dalam hal ini adalah respon-respon yang unik dan spesifik yang dialami tiap individu termasuk interaksinya dengan orang lain, untuk selanjutnya mengeksplorasi makna atay arti dari fenomena tersebut (Afiyati & Rachmawati, 2014). Tujuan studi fenomenologi adalah mendeskripsikan, menginterpretasikan dan menganalaisis data secara mendalam, lengkap dan terstruktur untuk memperoleh intisari (essence) pengalaman hidup individu membentuk kesatuan makna atau arti dari pengalaman hidup tersebut dalam bentuk cerita, narasi, dan bahasa/perkataan masing-masing individu (Afiyati & Rachmawati, 2014). Oleh karena itu, fenomenologi sering dihubungkan dengan istilah hermeneutics (ilmu tentang interpretasi dan eksplanasi) (Afiyati & Rachmawati, 2014).

Pendekatan fenomenologi menggunakan penjelasan-penjelasan secara rinci sehingga menghasilkan deskripsi padat (thick description) dan analisis yang rinci tentang berbagai pengalaman (seperti apa) yang dialami individu dalam dunia kehidupannya dan suatu situasi atau peristiwa (bagaimana) yang dialami seorang individu sehingga dapat memperoleh intisari (essence) dari pengalaman tersebut dengan menambahkan berbagai persepsi (Sandelowski, 2004, dalam Afiyati & Rachmawati, 2014). Interpretasi dan analisis hasil-hasil temuannya memungkinkan peneliti mengungkapkan suatu deskripsi tentang intisari dari situasi atau fenomena yang dialami masing-masing individu, sekaligus melalui perspektif mereka bersama sebagai pemahaman yang universal (Afiyati & Rachmawati, 2014).

D.    Jenis dan Variasi Pendekatan Fenomenologi

Menurut Afiyati dan Rachmawati (2014), semua ahli fenomenologi memiliki suatu keyakinan bahwa manusia atau individu memiliki cara yang unik dalam menjalani kehidupan sosialnya dan cara-cara menginterpetasikannya. Holloway & Wheeler (2010) mengungkapkan terdapat tiga major stream dalam fenomenologi, yaitu fenomenologi deskriptif (Edmund Husserl, 1859-1938), fenomenologi hermeneutik (Martin Heidegger, 1889-1976); dan fenomenologi eksistensialis (Merleau-Ponty, 1908-1961 dan Jean-Paul Sartre, 1905-1980). Pembagian lain dilakukan oleh Van Manen (2011) yang mengklasifikasikan empat pendekatan fenomenologi sebagai berikut:

1)     Fenomenologi transenden/deskriptif

Istilah transenden lebih dikenal dengan sebutan fenomenologi deskriptif (Moustakas, 1994). Pendekatan ini berfokus pada berbagai pengalaman individu yang bersifat universal yang dikenal dengan fenomenologi deskriptif (Afiyati & Rachmawati, 2014). Pendekatan ini merupakan tradisi philosopikal dan metode penyelidikan yang kompleks untuk mengeksplorasi fenomena melalui interaksi langsung antara peneliti dan objek yang diteliti.

Filosofi ini mengharuskan peneliti melakukan proses bracketing yakni mengurung asumsi dan pengetahuan tentang fenomena yang dipelajari sehingga dapat memberikan gambaran secara utuh mengenai bagaimana partisipan mengalami situasi dan fenomena yang dialaminya berdasarkan sudut pandang para partisipan tersebut dalam realita kehidupan sosialnya (Afiyati & Rachmawati, 2014). Prosedur pada jenis pendekatan ini terdiri dari 1) Intuting 2) Analyzing dan 3) Describing (Streubert & Carpenter, 2003).

Sebagai fenomenolog harus menginterpretasikan fenomena yang diteliti dengan menggunakan beberapa kerangka acuan.  Pengalaman hidup itu sendiri, seperti yang dijelaskan oleh peserta, digunakan untuk memberikan deskripsi universal dari fenomena tersebut (Wojnar & Swanson, 2007). Pendekatan ini merangsang persepsi peneliti tentang pengalaman hidup sambil menekankan pada kedalaman pengalaman yang diidentifikasi (Creswell & Poth, 2018).

Hal pertama yang dilakukan yaitu  mengidentifikasi fenomena untuk dipelajari, mengurung pengalaman seseorang, dan mengumpulkan data dari beberapa orang yang telah mengalami fenomena tersebut. Peneliti kemudian menganalisis data dengan mereduksi informasi menjadi pernyataan atau kutipan yang signifikan dan menggabungkan pernyataan tersebut menjadi tema. Setelah itu, peneliti mengembangkan deskripsi tekstur dari pengalaman orang (apa yang dialami partisipan), deskripsi struktural dari pengalaman mereka (bagaimana mereka mengalaminya dalam hal kondisi, situasi, atau konteks), dan kombinasi dari tekstur (Creswell & Poth, 2018).

2)     Fenomenologi hermeneutik

Pendekatan yang mengasumsikan temuan-temuan risetnya tidak murni hasil deskripsi melainkan interpretasi peneliti Saat ini hermeneutik fenomenologi telah dikembangkan menjadi analisis fenomenologikal interpretatif (Interpretative Phenomenological Analysis). Perbedaan antara fenomenologi transenden/deskriptif dan interpretatif yaitu pada pendekatan fenomenologi interpretatif tidak mewajibkan penelitinya melakukan bracketing dengan alasan tidak dimungkinkan seorang mensupresi keyakinan dan pengetahuannya tentang fenomena yang sedang dipelajarinya (Afiyati & Rachmawati, 2014; Creswell & Poth, 2018).

Menurut Wojnar dan Swanson (2007), fenomenologi hermeneutik merupakan pendekatan yang bertujuan untuk menggambarkan pengalaman manusia misalnya pada topik penyembuhan dan keutuhan dalam kaitannya dengan sejarah, sosial, dan politik yang membentuk makna kesehatan, penyakit, dan kepribadian. Fenomenologi hermeneutik didasarkan pada keyakinan bahwa peneliti dan peserta terlibat dalam penelitian dengan struktur pemahaman sebelumnya dibentuk oleh latar belakang masing-masing dan dalam proses interaksi dan interpretasi mereka menghasilkan pemahaman tentang fenomena yang dipelajari (Wojnar & Swanson, 2007).

3)     Fenomenologi eksistensial

Pendekatan ini mengharuskan peneliti untuk tidak memisahkan diri dari dunia kehidupan partisipannya. Menurut Afiyati dan Rachmawati (2014), digambarkan sebagai “being in the world”. Hubungan resiprokal antara peneliti dengan partisipan atau fenomena yang diteliti diantaranya semua pikiran, keinginan, usaha, dan berbagai tindakan dalam kehidupan nyata adalah situasi atau keadaan manusia itu sendiri (Afiyati & Rachmawati, 2014).

4)     Fenomenologi linguistik

Jenis ini berfokus mempelajari suatu perspektif bahwa bahasa dan wacana merupakan sarana untuk menyampaikan hubungan antara suatu pemahaman, budaya, riwayat sejarah, identitas, dan kehidupan manusia  (Afiyati & Rachmawati, 2014).

Namun demikian, Wojnar dan Swanson (2007) menyebutkan pendekatan fenomenologi yang paling banyak digunakan dalam keperawatan adalah fenomenologi deskriptif dan fenomenologi hermeneutik (interpretatif). Berikut ini disajikan perbedaan antara kedua pendekatan tersebut:

Tabel 1. Perbandingan Pendekatan Deskriptif dan Interpretive pada Metode Fenomenologi (Wojnar & Swanson, 2007)

Pendekatan Descriptive

Pendekatan  Interpretive

1)  Fokus atau menitikberatkan pada penggambaran esensi universal

2)  Melihat seseorang sebagai perwakilan dari dunia dimana ia tinggal

3)  Meyakini bahwa kesadaran adalah apa yang manusia bagikan

4)  Refleksi diri dan kesadaran merupakan hasil dari “pengupasan” pengetahuan sebelumnya membantu menyajikan deskripsi fenomena

5)  Kepatuhan pada ketetapan ilmiah yang untuk memastikan deskripsi esensi universal

6)  Bracketing memastikan bahwa interpretasi bebas dari bias

1)      Menekankan pemahaman fenomena dalam konteks

2)      Memandang seseorang sebagai makhluk yang menafsirkan diri sendiri

3)      Meyakini  bahwa konteks budaya, praktik, dan bahasa merupakan hal yang dibagikan oleh manusia

4)      Sebagai makhluk prarefleksif, peneliti secara aktif bersama-sama menciptakan interpretasi fenomena

5)      Seseorang perlu menetapkan kriteria kontekstual agar dapat mempercayai interpretasi yang diciptakan bersama

6)      Pemahaman bersama oleh peneliti dan partisipan yang membuat interpretasi menjadi bermakna

 

 

BAB 3

RANCANGAN STUDI

A.    Kerangka Kerja

Peneliti fenomenologi harus mengacu pada tiga hal yaitu manfaat, aksesibilitas dan homogenitas subjek. Saat menemukan fenomena untuk diteliti, maka peneliti harus memikirkan manfaat yang bisa didapatkan dari fenomena bagi ilmu yang sedang dipelajari. Selain itu, apakah peneliti memiliki akses untuk menemui dan  menggali pengalaman subjek. Homogenitas subjek juga merupakan hal penting yang harus dipikirkan oleh peneliti (Kahija, 2017).

Secara umum, beberapa kegiatan yang dilakukan peneliti dalam menggunakan pendekatan fenomenologi (Polit & Beck, 2012 dalam Afiyati & Rachmawati 2014) terdiri dari kegiatan-kegiatan sebagai berikut: bracketing, intuisi, analisis kemudian deskripsi dan interpretasi. Melakukan bracketing, yaitu proses mensupresi, mengurung, atau menyimpan berbagai asumsi, pengetahuan, dan keyakinan yang dimiliki peneliti tentang fenomena yang diteliti. Tujuan dilakukannya bracketing adalah untuk memperoleh data atau informasi yang alamiah dan berasal dari cerita langsung partisipan tentang pengalamannya tanpa dipengaruhi oleh berbagai asumsi, pengetahuan, dan keyakinan peneliti.

Pada tahap melakukan intuisi, peneliti secara utuh mengenali dan memahami fenomena yang diteliti. Langkah awal melakukan intuisi adalah mengumpulkan data atau informasi dengan cara mengeksplorasi pengalaman partisipan tentang fenomena yang diteliti melalui pengamatan langsung, wawancara, penemuan dokumen-dokumen tertulis, dan menuliskan berbagai catatan lapangan selama pengambilan data. Ketika melakukan intuisi, peneliti tidak diperbolehkan memberikan kecaman, evaluasi, opini, atau segala hal yang membuat peneliti kehilangan konsentasi terhadap data atau informasi yang sedang diceritakan.

Tahap selanjutnya adalah melakukan analisis. Pada tahap ini, peneliti mengidentifikasi dan menganalisis data atau informasi yang ditemukan. Kegiatan analisis dibagi menjadi beberapa tahapan, yaitu mengumpulkan dan melakukan analisis data atau informasi tentang fenomena yang diteliti dengan langkah-langkah sebagai berikut: membaca semua data atau fenomena yang telah dikumpulkan, membaca ulang fenomena dan memilih kata kunci (proses koding), mengidentifikasi arti dari beberapa kata kunci yang telah teridentifikasi (proses kategorisasi), mengelompokkan beberapa arti yang teridentifikasi ke dalam bentuk tema-tema (proses tematik), menuliskan pola hubungan antar tema tersebut ke dalam suatu narasi sementara, mengembalikan narasi tersebut untuk divalidasi dan dikenali kepada para partisipan, dan mendeskripsikan data hasil validasi tersebut dan menuliskannya ke dalam suatu narasi akhir (hasil penelitian) untuk disampaikan pada laporan penelitian kepada pembaca atau peneliti lainnya.

Setelah analis, maka tahap selanjutnya yang dilakukan oleh penliti adalah melakukan deskripsi dan interpretasi. Kegiatan ini merupakan tahap akhir dari pengumpulan dan analisis data. Peneliti menuliskan deskripsi atau interpretasinya dalam bentuk hasil-hasil temuan dan pembahasannya dari fenomena yang diteliti untuk mengkomunikasikan hasil akhir penelitiannya kdengan memberikan gambaran tertulis secara utuh dari fenomena yang diteliti, kemudian membandingkannya dengan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti-peneliti sebelumnya serta memberikan kritisi berdasarkan pola hubungan tema yang terbentuk dari fenomena yang diteliti.

 

B.    Masalah dan Pertanyaan Penelitian

Suatu isu atau permasalahan membutuhkan pendekatan kualitatif untuk menyelesaikannya ketika isu tersebut perlu dieksplorasi secara mendalam. Eksplorasi terhadap masalah tersebut dilakukan ketika variabel yang teridentifikasi pada masalah tersebut tidak mudah dilakukan pengukurannya. Creswell (2013) menyatakan berbagai uraiannya terkait permasalahan-permasalahan yang membutuhkan pendekatan kualitatif sebagai metodologi penyelesaiannya sebagai berikut: (1) pemahaman pada fenomena yang akan diteliti ataupun yang mendasarinya sangat kompleks sehingga belum banyak terungkap dalam arti konsep-konsep, hipotesis, teori-teori atau hasil-hasil riset yang sudah dilakukan oleh para peneliti terdahulu belum banyak tersedia; (2) masih terdapat kerancuan atau bias data/ informasi dari fenomena yang diteliti atau masih terdapat kesenjangan/ gap antara informasi satu dengan lainnya; (3) belum komprehensifnya temuan-temuan yang ada dalam menjelaskan fenomena yang diteliti, dengan kata lain variabel-variabel atau teori dasar yang menjelaskan fenomena yang diteliti belum diketahui; (4) situasi-situasi untuk memahami kehidupan manusia yang kompleks dan multidimensi sebagai individu yang unik yang membutuhkan pemahaman lebih mendalam dan rinci dari temuan-temuan sebelumnya; (5) diperlukannya pengembangan suatu gagasan atau ide untuk menghasilkan suatu teori atau kerangka konsep yang merefleksikan berbagai realitas sosial dari fenomena yang diteliti; serta (6) kebutuhan untuk memberdayakan individu untuk berbagi cerita, mendengarkan cerita pengalaman hidupnya, dan mendekatkan hubungan yang sering kali terjadi di antara peneliti dan individu yang diteliti.

Fenomena atau situasi praktik keperawatan membutuhkan penyelesaian permasalahannya dengan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif diperlukan ketika permasalahan-permasalahan tersebut memiliki ketersediaan informasi dari hasil-hasil penelitian pada fenomena atau topik yang diteliti masih sangat sedikit, bahkan belum ada informasi atau data apa pun sehingga perlu dikembangkan suatu konsep atau teori dari fenomena yang diteliti atau ketika peneliti menginginkan memperoleh suatu alternatif lain penyelesaian dari suatu isu-topik yang sedang berkembang. Selanjutnya, penyelesaian dengan metode kualitatif dapat dilakukan untuk menjelaskan berbagai situasi pasien yang belum dapat dijelaskan konsep atau teorinya oleh para pakar tentang situasi tersebut.

Pertanyaan pada penelitian fenomenologi adalah apa makna, struktur, dan inti dari pengalaman yang dialami oleh seorang individu atau sekelompok individu tentang realitas dunia kehidupannya (Alfiyati dan Nurahmawati, 2014). Contoh pertanyaan penelitian dalam studi fenomenologi adalah sebagai berikut (Kahija, 2017):

  1. Apa pengalaman subjek terhadap suatu fenomena.
  2. Apa perasaannya terhadap fenomena tersebut.
  3. Apa makna yang diperoleh subjek atas fenomena tersebut.

 

 

C. Tujuan Penelitian Fenomenologi

Penelitian fenomenologi adalah penelitian yang reflektif dengan mendengarkan pengalaman orang lain tanpa melibatkan pengalaman diri sendiri. Penelitian fenomenologi merupakan penelitian yang berasal dari perspektif orang pertama dan ini merupakan esensi dari kesadaran yang dialami oleh partisipan. Dalam bahasa Jerman, penglihatan akan esensi disebut Wesenhau. Kata Jerman schauen artinya melihat dan wesen artinya inti atau esensi atau hakikat. Wesenschau adalah penglihatan yang jernih, penglihatan tanpa prasangka/penilaian/spekulasi/kekhawatiran/kecemasan dan sejenisnya. Peneliti harus dapat melihat pengalaman orang lain tanpa dicemari oleh pengalaman diri sendiri. Dalam penglihatan yang jernih itu, maka pemahaman akan muncul secara alami dan inti dari pengalaman orang lain akan didapatkan (Kahija, 2017).

Tujuan studi fenomenologi adalah mendeskripsikan, menginterpretasikan dan menganalisis data secara mendalam, lengkap, dan terstruktur untuk memperoleh inti pengalaman hidup individu membentuk kesatuan makna atau arti dari pengalaman hidup tersebut dalam bentuk cerita, narasi, dan bahasa/perkataan masing-masing individu. Oleh karena itu, fenomenologi sering dihubungkan dengan istilah hermeneutics (ilmu tentang interpretasi dan eksplanasi). Pendekatan fenomenologi menggunakan penjelasan-penjelasan secara rinci sehingga menghasilkan deskripsi padat dan analisis yang rinci tentang berbagai pengalaman (seperti apa) yang dialami individu dalam dunia kehidupannya dan suatu situasi atau peristiwa (bagaimana) yang dialami seorang individu sehingga dapat memperoleh intisari dari pengalaman tersebut dengan menambahkan berbagai persepsi (Sandelowski, 2004 dalam Alfiyati dan Rahmawati 2014).

 

D. SAMPLING, TEMPAT DAN KASUS

Penentuan informan yang merupakan sample dalam penelitian fenomenologi bergantung pada kapabilitas orang yang akan diwawancarai untuk dapat mengartikulasikannya pengalaman hidupnya (fenomena yang akan di teliti)  (Creswell, 2014).

Penentuan Lokasi dalam penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi bisa di suatu tempat tertentu atau tersebar, dengan memperhatikan individu yang akan dijadikan informan. Bisa dilakukan pengambilan data di rumah, kelas, tepat tertentu sesuai dengan kenyamanan informan. Yang terpenting adalah penulis harus mempu menjelaskan dengan detail lokasi pengumpulan data sehingga pembaca bisa benar benar memahami gambara dari lokasi pengambilan data yang dilakukan. ( Cresswell, 2014).

Besaran sampel atau jumlah responden yang akan di teliti tidak ada ukuran yang pasti. Menurut Cresswell (2014) jumlah sampel atau informan yang akan di jadikan sampel penelitian bisa sebanyak 10 responden namun dipertimbangkan jumlah berdasarkan kejenuhan data (artinya penelitian akan di hentikan proses pengambilan data jika hasil pengumpulan data sudah menunjukkan kejenuhan data).

 

E. THE RELATIONAL DIMENSION OF QUALITATITIVE DATA COLLECTION

   Penelitian kualitatif memiliki ciri fleksibel, terbuka dan responsive terhadap konteks, Langkah-langkah pengumpulan dan analisis data yang tidak terpisah dan berurutan. Fossey (2002) mengatakan bahwa pengambilan sampel, pengumpulan data, analisis dan interpretasi dalam kualitatif adalah saling berkaitan, dan bukan mengikuti tahapan satu demi satu. Peneliti dapat membuat keputusan tentang metode, bagaimana penerapannya, untuk apa dan berapa banyak unit yang diterapkan.

     Pada gambar 1 berikut menunjukkan langkah maju-mundur yang bisa berulang antara pengumpulan dan analisis data, dimana pandangan dan pengalaman baru dapat mengarahkan pada perluasan rencana awal. Beberapa pandangan, pertanyaan penelitian dan atau desain penelitian secara keseluruhan dapat direvisi sebagaian ataupun keseluruhan. Proses berakhir saat tercapai saturasi dan tidak ditemukan informasi baru yang relevan. Semua proses harus didokumentasikan sehingga akan menjadi alasan yang kuat terhadap semua perubahan dan hasil penelitian.

Gambar 1. Proses penelitian literative

 Metode pengumpulan data kualitatif yang paling sering digunakan dalam penelitian kesehatan adalah studi dokumen, observasi, wawancara semi terstruktur dan kelompok focus.

1.       Studi Dokumen

Studi dokumen (analisis dokumen) mengacu pada penelaahan oleh peneliti terhadap bahan tertulis. Hal dapat mencakup dokumen pribadi dan non-pribadi seperti arsip, laporan tahunan, pedoman, dokumen kebijakan, buku harian atau surat.

 2.       Observasi

Observasi / pengamatan sangat bermanfaat untuk mendapatkan pandangan tentang pengaturan dan perilaku aktual, yang dapat mengkonfrontasi perilaku atau opini yang dilaporkan. Observasi ini terdiri dari dua macam, yaitu observasi partisipan (observer merupakan bagian dari setting yang diamati) dan observasi non-partisipan (observer di luar melihat ke dalam, bukan bagian dari situasi dan tidak mempengaruhi setting dengan kehadiran observer).  Selama pengamatan, observer mencatat segala sesuatu atau bagian tertentu yang telah ditentukan sebelumnya berdasarkan yang kejadian di sekitar observer.

 3.       Wawancara semi terstruktur

Wawancara kualitatif merupakan pertukaran karakter informal, dan percakapan yang memiliki tujuan. Wawancara digunakan untuk mendapatkan pandangan tentang pengalaman subjektif, pendapat dan motivasi seseorang. Wawancara dibedakan menjadi wawancara terstruktur (menggunakan kuisioner), terbuka (percakapan bebas atau wawancara otobiografi), atau semi terstruktur. Wawancara semi terstruktur memiliki ciri-ciri pertanyaan terbuka dan menggunakan panduan wawancara yang berisi topik yang telah ditentukan berdasarkan literatur.

Dibandingkan dengan survey tertulis, wawancara kualitatif sangat interakitd dan memungkinkan topik yang tidak terduga muncul dan dapat ditemukan oleh peneliti. Hal ini juga dapat mengurangi bias yang biasa terjadi pada survey tertulis. Wawancara dapat berupa rekaman audio atau video dan dengan catatan tertulis.

4.       Kelompok focus

Wawancara kelompok focus adalah wawancara dalam kelompok yang bertujuan untuk mengeksplorasi keahlian dan pengalaman partisipan, termasuk eksplorasi tentang bagaimana dan mengapa orang berperilaku dengan cara tertentu. Fokus grup ini terdiri dari 6-8 orang dan dipimpin oleh moderator yang berpengalaman dan mengikuti panduan topik wawancara (skrip). Seorang pengamat bisa dilibatkan sepanjang wawancara untuk memperhatikan aspek non-verbal dengan menggunakan panduan observasi. Berdasarkan kesepakatan peneliti dan peserta, proses wawancara dapat direkam dengan video dan audio kemudian ditranskripkan.

Dalam menentukan metode yang benar dalam pengambilan data kualitatif dikembalikan pada pertanyaan penelitian yang harus dijawab dan penilaian sejauh mana metode yang dipilih akan mencapai kesesuaian antara pertanyaan dengan metode. Dalam gambar 2 berikut merupakan kombinasi dalam pengumpulan data.

Gambar 2. Metode Pengambilan Data Penelitian Kualitatif

Pengumpulan data penelitian kualitatif fenomenologi dalam dilakukan dengan metode observasi dan wawancara. Wawancara yang dilakukan salah satunya adalah dengan in-depth interview yang bertujuan memperoleh detail fenomena dan sesuatu yang belum terlihat. Data yang didapatkan dari in-depth interview ini selanjutnya dianalisis dengan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) yang terdiri dari enam tahap, yaitu: 1). Reading and re-reading; 2). Initial noting; 3). Developing emergent themes; 4). Searching for connection across emergent themes; 5). Moving the next cases; 6). Looking for patterns across cases.

 

F. ETHICAL ISSUES IN QUALITATIVE RESEACH AND GAIN SENSITIVITY TOWARD VULNERABEL POPULATION

Etika dalam penelitian    merupakan persoalan norma  ( standar) yang harus digunakan sebagai pedoman dan sekaligus nilai-nilai luhur.  Etika penelitian Kualitatif menjadi suatu yang sangat penting, terutama  terkait dengan novelty dari judul penelitian serta tahapan dalam penelitian.   Etika seorang peneliti dalam melakukan penelitian harus merujuk pada  sikap kejujuran, selain dari sikap tersebut   salah satu syarat  yang harus dipenuhi  sebelum melakukan penelitian adalah adanya rekomendasi penelitian dari komisi etik penelitian. Dari beberapa langkah - langkah dalam menemukan masalah penelitian, salah satunya  adalah  Ethical (Etis) dimana penelitian yang dilakukan tidak boleh bertentangan dengan etika.

Etika adalah ilmu tentang benar dan salah atau tentang hak dan kewajiban, sementara etis adalah hal yang sesuai dengan etika yang telah berlaku dan disepakati secara umum. Dikatakan etis bila sudah sesuai dengan norma-norma sosial, agama dan lainnya yang diterima secara umum.Dikatakan tidak etis bila tidak sesuai dengan norma-norma sosial, agama, dan lainnya yang diterima secara umum. Khusus  penelitian yang melibatkan manusia sebagai sampel penelitian, harus mendapatkan telaahan dan persetujuan komisi etik terlebih dahulu sebelum melaksanakan penelitian. 

Prinsip  dari etis berupa manfaat atau keuntungan serta perlu dirumuskan secara akurat dan kontekstual dalam mendefinisikan “keuntungan” (benefit; apakah misalnya berbentuk penyediaan layanan kesehatan yang sebelumnya tidak ada, pembangunan kapasitas individu dan kelembagaan, akses terhadap intervensi kesehatan masyarakat, dan sebagainya), “penerima keuntungan” (beneficiaries), dan cakupan kewajiban untuk memberikan keuntungan tersebut. Urgensi ini didasarkan atas kenyataan bahwa berbagai pedoman etis penelitian berbeda-beda dalam menekankan batasan atau definisi “keuntungan” bagi partisipan penelitian.

Kecenderungan kemajuan etika penelitian  saat ini, mengalami  pergeseran menjadi lebih holistik, yakni bahwa penerima perlindungan dan keuntungan mencakup juga kepentingan komunitas serta kepentingan bangsa yang menaungi komunitas tersebut. Pertanyaan yang lebih mendasar pada  persoalan keadilan (justice), yang niscaya berhubungan dengan konektivitas partisipan penelitian dengan komunitas dan bangsanya. sebagai sesuatu yang  perlu diperhatikan adalah   seyogianya peneliti lakukan apabila menghadapi situasi dalam mana penemuan teknologi baru, obat baru, terapi atau intervensi baru, berimplikasi pada biaya  yang lebih besar daripada yang dapat dibayar oleh wajib pajak guna menyediakan populasi perlindungan kesehatan yang lebih luas dan lebih baik (Buchanan & Miller, 2006).

Selanjutnya informed consent menjadi hal yang sangat penting dalam tahapan penelitian yang harus mendapatkan persetujuan dari partisipan sebelum mengambil data. Privasi juga  merupakan isu krusial dalam konteks penelitian kesehatan. Oleh karena adanya perbedaan antar pasien,  kebutuhan yang beragam dari pasien, harus melibatkan pihak lain dalam proses pemeliharaan kesehatan pasien.  Isi  informed Consent harus jelas, mudah difahami oleh partisipan dan penjelasannya secara detail dan sistimatis tentang tahapan penelitian dan dampak serta keuntungan jika bersedia sebagai partisipan sebelum tanda tangan menyetujui berpartisipasi.

Kode etika penelitian  terbagi dalam tiga aspek yaitu etika penelitian, etika berperilaku, Etika publikasi . Untuk etika Penelitian  didalamnya terdapat  kebenaran ilmiah, adanya landasan berfikir  untuk mendapatkan bukti yang sah  dan bebas dari kepentingan pihak tertentu. metode ilmiah yang digunakan mengikuti metode  baku yang menggunakan prosedur yang kayak, tepat sasaran penelitian karena diperlukan. selain itu sumber daya ilmiah diharapkan dapat efisien serta dapat mementingkan keselamatan dalam merekam hasil penelitian.

Etika berperilaku merupakan suatu sikap yang netral serta dapat memberikan keterbukaan akses untuk verifikasi atau penelitian selanjutnya. Salah satu sikap yang dimiliki adalah kesantunan perlakuan secara bermoral terhadap subjek atau  atau tujuan tidak dapat digunakan untuk memanipulasi proses atau data yang ada . selain itu isi dari etika berperilaku adalah keterbukaan informasi yang memberikan kesempatan kepada pihak lain dalam menyampaikan tanggapan dan saran.

Etika Publikasi berisi tentang penghargaan kepada pengarang lain dalam  serta memberikan pengakuan  kepada pihak lain yang berjasa. selain dari prinsip etika penelitian ada beberapa prinsip etika yang harus diterapkan: adalah tanggung jawab seorang peneliti dan evaluasi  untuk mengikuti  prinsip dari etika penelitian. peneliti harus memperhitungkan resiko yang akan dialami subjek penelitian.

Prinsip Etik pada tahun 1976 Departemen Kesehatan, Pendidikan dan Kesejahteraan Amerika Serikat melahirkan The Belmont Report yang merekomendasikan tiga prinsip etik umum penelitian kesehatan yang mengikutsertakan manusia sebagai subjek penelitian. Secara universal, ketiga prinsip tersebut telah disepakati dan diakui sebagai prinsip etik umum penelitian kesehatan yang memiliki kekuatan moral, sehingga suatu penelitian dapat dipertanggungjawabkan baik menurut pandangan etik maupun hukum. Ketiga prinsip etik dasar tersebut adalah sebagai berikut:

1. Prinsip menghormati harkat martabat manusia (respect for persons). Prinsip ini merupakan bentuk penghormatan terhadap harkat martabat manusia sebagai pribadi (personal) yang memiliki kebebasan berkehendak atau memilih dan sekaligus bertanggung jawab secara pribadi terhadap keputusannya sendiri. Secara mendasar prinsip ini bertujuan untuk menghormati otonomi, yang mempersyaratkan bahwa manusia yang mampu memahami pilihan pribadinya untuk mengambil keputusan mandiri (self determination), dan melindungi manusia yang otonominya terganggu atau kurang, mempersyaratkan bahwa manusia yang berketergantungan (dependent) atau rentan (vulnerable) perlu diberikan perlindungan terhadap kerugian atau penyalahgunaan (harm and abuse).

 2. Prinsip berbuat baik (beneficence) dan tidak merugikan (non-maleficence) Prinsip etik berbuat baik menyangkut kewajiban membantu orang lain dilakukan dengan mengupayakan manfaat maksimal dengan kerugian minimal. Subjek manusia diikutsertakan dalam penelitian kesehatan dimaksudkan membantu tercapainya tujuan penelitian kesehatan yang sesuai untuk diaplikasikan kepada manusia. Prinsip etik berbuat baik, mempersyaratkan bahwa:

a. Risiko penelitian harus wajar (reasonable) dibanding manfaat yang diharapkan;

 b. Desain penelitian harus memenuhi persyaratan ilmiah (scientifically sound);  

c. Para peneliti mampu melaksanakan penelitian dan sekaligus mampu menjaga kesejahteraan subjek penelitian dan;

 d. Prinsip do no harm (non maleficent - tidak merugikan) yang menentang segala tindakan dengan sengaja merugikan subjek penelitian.

             Prinsip tidak merugikan adalah jika tidak dapat melakukan hal yang bermanfaat, maka sebaiknya jangan merugikan orang lain. Prinsip tidak merugikan bertujuan agar subjek penelitian tidak diperlakukan sebagai sarana dan memberikan perlindungan terhadap tindakan penyalahgunaan.

3. Prinsip keadilan (justice) Prinsip etik keadilan mengacu pada kewajiban etik untuk memperlakukan setiap orang (sebagai pribadi otonom) sama dengan moral yang benar dan layak dalam memperoleh haknya. Prinsip etik keadilan terutama menyangkut keadilan yang merata (distributive justice) yang mempersyaratkan pembagian seimbang (equitable), dalam hal beban dan manfaat yang diperoleh subjek dari keikutsertaan dalam penelitian. Ini dilakukan dengan memperhatikan distribusi usia dan gender, status ekonomi, budaya dan pertimbangan etnik. Perbedaan dalam distribusi beban dan manfaat hanya dapat dibenarkan jika didasarkan pada perbedaan yang relevan secara moral antara orang-orang yang diikutsertakan. Salah satu perbedaan perlakuan tersebut adalah kerentanan (vulnerability). Kerentanan adalah ketidakmampuan untuk melindungi kepentingan diri sendiri dan kesulitan memberi persetujuan, kurangnya kemampuan menentukan pilihan untuk memperoleh pelayanan atau keperluan lain yang mahal, atau karena tergolong yang muda atau berkedudukan rendah pada hirarki kelompoknya. Untuk itu, diperlukan ketentuan khusus untuk melindungi hak dan kesejahteraan subjek yang rentan.  Setelah tahun 1976 dengan Belmont Report, perkembangan selanjutnya di bidang etik penelitian kesehatan baru terjadi di awal abad 21 dengan waktu yang relatif lebih singkat dibanding periode sebelumnya. Namun masyarakat ilmiah kesehatan secara eksplisit tidak banyak menyebut Belmont Report, karena beranggapan bahwa tim penyusun laporan ini bukan tim indepeden yang dibentuk oleh satu negara dan anggotanya tidak bersifat internasional. Pada tahun 2000, World Health Organization (WHO) menerbitkan buku Operational Guidelines for Ethics Committees that Review Biomedical Research. Pedoman WHO tersebut menjelaskan secara rinci tujuan dan cara pembentukan komisi etik penelitian serta proses penilaian etik protokol penelitian kesehatan. Selain itu juga diatur tentang independensi keanggotaan dan prosedur kerja, termasuk aplikasi protokol penelitian dan proses pengambilan keputusan. Dokumen tersebut merupakan pedoman kunci untuk membentuk KEPK dan menentukan prosedur kerjanya.

 

 

G. KELEBIHAN DAN KETERBATASAN PENDEKATAN FENOMENOLOGI

Beberapa kelebihan dan keterbatasan pendekatan fenomenologi adalah sebagai berikut:

Tabel 2: Kelebihan/keunggulan dan keterbatasan studi fenomenologi

No

Kelebihan

Keterbatasan

1

Meningkatkan pemahaman tentang pengalaman sehari-hari

Risiko kurang tepat merepresentasikan fenomena

2

Pendekatan yang memfasilitasi pengumpulan informasi secara sistematis tentang bagaimana individu melewati suatu peristiwa

Risiko penyampaian temuan yang tidak lengkap

3

Menggambarkan deskripsi peristiwa secara lengkap

Ketidakmampuan menggeneralisasi dari pengalaman yang telah digali

4

Kemampuan orang lain untuk mengenali pengalaman mereka

Risiko menggali pengalaman traumatik terutama pada kelompok yang rentan (contoh partisipan dengan post traumatic syndrom disorder)

 

Masalah keterpercayaan menjadi perhatian bagi peneliti yang terlibat dalam metode ini. Keterpercayaan pertanyaan yang diajukan kepada peserta studi tergantung pada sejauh mana peneliti memanfaatkan pengalaman peserta selain dari pengetahuan teoritis peserta tentang topik tersebut. Penggunaan metode yang konsisten dan pengelompokan pengetahuan sebelumnya membantu memastikan deskripsi data yang murni. Untuk memastikan ketepatan analisis data, peneliti kembali ke setiap peserta dan menanyakan apakah deskripsi lengkap mencerminkan pengalaman peserta. Ketika temuan diakui kebenarannya oleh para partisipan, keterpercayaan data lebih lanjut ditetapkan. Jika unsur-unsur yang dicatat tidak jelas atau disalahartikan, peneliti harus kembali ke analisis dan merevisi deskripsi.

Meminta deskripsi negatif dari fenomena saat penelitian membantu dalam membangun keaslian data (Streubert & Carpenter, 2010). Misalnya, dalam penelitian yang menyelidiki makna kualitas hidup pada individu dengan diabetes mellitus tipe 1, peneliti mungkin bertanya, “Dapatkah Anda menggambarkan situasi di mana Anda akan merasa bahwa Anda tidak memiliki kualitas hidup?” Pertanyaan ini memberikan kesempatan untuk membandingkan dan membedakan data. Akhirnya, jejak audit sangat penting untuk membangun keaslian dan kepercayaan data. Proses ini memungkinkan pembaca untuk mengikuti dengan jelas garis pemikiran yang peneliti gunakan selama analisis data. Hubungan yang jelas antara bagaimana penelitian mengolah “data”  mentah hingga data yang ditafsirkan dibuat melalui contoh-contoh rinci. Ketelitian dalam penelitian kualitatif merupakan komponen penting dalam proses tersebut. Analisis data terjadi melalui proses mental yang kompleks, berpikir kritis, dan analisis. Peneliti harus mempersiapkan deskripsi akhir mereka sedemikian rupa sehingga alur pemikiran dan interpretasi yang terjadi jelas bagi pembaca dan sesuai dengan data (Streubert & Carpenter, 2010).

Peneliti pada penelitian ini dituntut untuk menjadi peneliti yang reflektif. Pada penelitian ini, peneliti harus memiliki komitmen pada dirinya sendiri untuk mengawasi dirinya sendiri. Hal tersebut bermaksud agar data penelitian benar berasal dari subjek yang diteliti. Bila seorang peneliti terlibat dalam pengambilan data maka hasil penelitian menjadi lemah. Sebagai contoh seorang peneliti yang meneliti tentang pengalaman istri yang suaminya berselingkuh. Pada saat wawancara, suami subjek datang kemudian terjadi pertengkaran antara subjek dan suaminya. Di luar kendali peneliti ikut terlibat dalam pertengkaran tersebut. ternyata ketertarikannya untuk meneliti hal tersebut berasal dari pengalaman pribadi anggota keluarganya dan dia merasakan sakit hati. Di lain pihak jika peneliti bisa menjaga dirinya atau reflektif, maka pengalaman orang lain yang digali akan murni berasal dari subjek (Kahija, 2017).

Kelemahan penelitian fenomenologi dapat muncul dari peneliti sebagai alat penelitian itu sendiri. Peneliti fenomenologi harus mampu menerima bahwa persepsi itu relatif, peneliti dapat menjalankan epoche, peneliti harus memiliki kemempuan mendengarkan dan peneliti harus mampu menjalankan empati. Bila hal tersebut kurang mampu dipenuhi oleh peneliti maka penelitian yang dihasilkan kurang dapat menggambarkan kondisi yang akan diteliti (Kahija, 2017). 


 

BAB IV

SIMPULAN

 

Berdasarkan paparan pada makalah ini dapat diambil simpulan sebagai berikut:

  1. Fenomenologi merupakan pendekatan filosofi dan pendekatan riset.
  2. Filsafat fenomenologi sebagiannya mencakup pertanyaan epistemologis - tentang teori pengetahuan - yaitu tentang “bagaimana kita tahu”, hubungan individu yang tahu dan apa yang bisa diketahui, dan juga terkoneksi dengan pertanyaan ontologis: ‘what is being’. Pertanyaan ontologis ini berkaitan dengan sifat realitas dan pengetahuan kita tentangnya, ‘how things really are (bagaimana keadaan sebenarnya).
  3. Tujuan studi fenomenologi adalah mendeskripsikan, menginterpretasikan dan menganalisis data secara mendalam, lengkap, dan terstruktur untuk memperoleh inti pengalaman hidup individu membentuk kesatuan makna atau arti dari pengalaman hidup tersebut dalam bentuk cerita, narasi, dan bahasa/perkataan masing-masing individu.
  4. Ilmu keperawatan sangat berkaitan dengan merawat individu secara holistik, sehingga fenomenologi memainkan peran penting dalam profesi keperawatan karena tidak hanya menghargai pengalaman individu tetapi juga prinsip dan modalitas penyembuhan holistik mereka ke dalam kehidupan sehari-hari dan praktik klinis.
  5. Dalam pelaksanaan penelitian fenomenologi, peneliti keperawatan harus menjunjung tinggi nilai-nilai dan prinsip etik.

 

 

 


 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Afiyanti, Y. & Rachmawati, N. I. (2014). Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Riset keperawatan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

 

Asih, I. D. (2005). Fenomenologi Husserl: Sebuah Cara “Kembali ke Fenomena.”

Jurnal Keperawatan Indonesia , 9(2), 75–80

 

Busetto, L., Wick, W. & Gumbinger, C. How to use and assess qualitative

research methods. Neurol. Res. Pract. 2, 14 (2020).

 

Creswell. J.W. (2014). Reseach Design : Qualitative, Quantitative and Mixed

Methodes Approaches, 4th Edition,  SAGE  Publcation. Inc. London.

 

Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative Inquiry & Research Design.

SAGE May, A. le, & Holmes, S. (2012). Introduction to Nursing Research.

Taylor and Francis Group

 

Kahija. La. YF. (2017). Penelitian Fenomenologis Jalan Memahami Pengalaman

Hidup. Yogyakarta: PT Kanisius.

 

May, A. le, & Holmes, S. (2012). Introduction to Nursing Research. Taylor and

Francis Group

 

Spiegelberg, H. (1978). The phenomenological movement: A historical

introduction. The hague: Matinus Nijhoff.

 

Streubert, H. J., & Carpenter, D. R. (2003). Qualitative Research in Nursing:

Advancing The Humanistic Imperative (3rd ed.). Phildelphia: Lippincott

 

Wojnar, D. M., & Swanson, K. M. (2007). Phenomenology: an exploration. Journal

of holistic nursing : official journal of the American Holistic Nurses' Association, 25(3), 172–185. https://doi.org/10.1177/0898010106295172

 

 

 

 

Komentar

  1. tak apa saya rasa begini.. jadi bisa tampak semua materinya.

    BalasHapus
  2. sekalian bertanya ya terkait studi literatur dalam penelitian fenomenologi. baiknya kita menelaah literatur dengan mendalam sebelum penelitian atau nanti setelah analisis baru kita mencari literatur?

    BalasHapus
    Balasan
    1. izin menjawab bu Ani, studi literatur tetap dilakukan sebelum penelitian fenomenologi untuk memahami konsep dan menentukan tujuan penelitian. Namun peneliti perlu melakukan bracketing (menahan diri terhadap pemahaman selama pengambilan data terhadap teori) sehingga tetap fokus pada tujuan dan sesuai dengan fenomena yang ada pada partisipan. Sehingga kemurnian data partisipan bisa diperoleh dan akan dianalisa dengan menggunakan teori dan konsep sebelumnya, apakah memperkuat teori konsep, ataukah ditemukan data baru yang belum terdapat di teori konsep sebelumnya. terima kasih.

      Hapus
  3. terkait studi literatur, studi literatur tetap di butuhkan sebadai langkah awal dan dasar kita untuk memperoleh gambaran data yang mungkin akan di temui dalam penelitian fenomenologi, meskipun secara teknis.. data yang di dapatkan selama menjalani enelitian, iulah yang menjadi data yang akan di tarik kesimpulan.

    BalasHapus
  4. Ijin menambahkan untuk pertanyaan Ibu Ani, studi literatur juga dapat dilakukan setelah analisis data, untuk mengurai fenomena yang terobservasi, membantu memahami fenomena tersebut dan posisi temuan penelitian dibandingkan dengan penelitian-penelitian lain; atau menyatukan hasil-hasil temuan dengan hasil-hasil temuan dari literatur terdahulu; atau untuk menentukan berbagai persamaan dan perbedaan hasil temuan. Jadi studi studi literatur pada fase awal juga dapat dilakukan, dengan catatan bahwa peneliti harus melakukan bracketing atau apoche terlebih dahulu agar tidak menimbulkan bias. Terimakasih

    BalasHapus
  5. Saya Sukarmin mau tanya tentang batas penentuan jumlah sampel berdasarkan kejenuhan data itu yang seperti apa? Jadi kalau saat meneliti sudah ditemukan kejenuhan data 2 orang berarti sampel cukup 2 orang? Data jenuh itu seperti apa ya?

    BalasHapus
  6. Terimakasih pertanyaannya Pak Sukarmin.. disebut dengan data jenuh adalah apabila hasil dari penggaian data kepada partisipan telah berulang kali didapatkan kata atau data yang sama. Pada penelitian fenomenologi, disebutkan data akan jenuh dengan responden sekitar 5-10 partisipan. ada pula yang menyebutkan 10-15 partisipan. Hal ini bergantung dari kemampuan peneliti sebagai alat penggali data. Namun apabila dirasa sudah jenuh maka peneliti dapat menghentikan proses penggalian data. Sejauh ini, membaca publikasi penelitian fenomenologi belum pernah mendapatkan data jenuh diperoleh dari hanya 2 orang responden. Publikasi fenomenologi pada jurnal internasional bereputasi rata-rata partisipan adalah di atas 10. Terimakasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ijin menjawab pak sukarmin: data jenuh jika tema- tema yang ditemukan dalam hasil wawancara dengan partisipan telah saturasi tergantung dari hasil wawancara dan kedalaman peneliti dalam mencari data.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kel 1_FGD dan Studi Dokumen