MK
METODOLOGI KUALITATIF
PENGUMPULAN
DATA OBSERVASI DALAM METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF
Kelompok 2 :
Imelda Liana Ritonga
Jathu Dwi Wahyuni
Nelly
Hermala Dewi
Suroso
Umi
Eliawati
Rachmalia
M.Khotibul
Umam
Pembimbing
: Dr. Imami Nur Rahmawati, SKp, MSc
PROGRAM STUDI DOKTORAL KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS INDONESIA
T.A. 2021/2022
Kata Pengantar
Segala puji syukur kami panjatkan kepada Alloh SWT
atas rahmat dan karunianya sehingga makalah dengan topik “Pengumpulan Data
Observasi Dalam Metodologi Penelitian Kualitatif “ dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Metodologi Kualitatif pada
Program Doktoral Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada
:
1.
Prof.
Dra Setyowati, M.AppSc., Ph.D selaku penanggung jawab Mata Kuliah Metodologi
Peneleitian Kualitatif
2.
Dr.
Imami Nur Rahmawati, SKp, MSc selaku pembimbing dalam penyusunan makalah ini.
3.
Seluruh
mahasiswa program Doktoral FIK UI Angkatan 2021
Kami
menyadari makalah ini belum sempurna, sehingga saran dan masukan dapat
disampaikan kepada kami. Semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pihak.
Jakarta, 7 Maret
Tim Penyusun Kelompok II
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar
BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan Penulisan
BAB II Pengumpulan
Data : Observasi
2.1 Deskripsi Observasi
2.2 Keunggulan dan Keterbatasan
Observasi
2.3 Lokasi Observasi
2.4 Jenis Observasi
2.5 Proses Observasi
2.6 Hasil Observasi
Daftar
Pustaka
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Riset kualitatif merupakan pendekatan
penelitian yang bertujuan untuk memahami suatu fenomena dari persepsi ataupun perspektif
individu. Untuk memahami fenomena yang
akan diteliti berdasarkan persepsi dan perpektif individu, maka perlu dilakukan
suatu pengumpulan data yang tepat. Salah satu teknik pengumpulan data pada
kualitatif adalah observasi. Pada Teknik
pengumpulan data observasi, data dikumpulkan peneliti baik dari observasi
partisipan ataupun dari peneliti sendiri.
Data yang dikumpulkan adalah data persepsi-sensori, yakni hal-hal yang
dilihat, didengar, dirasakan, dicium dan berbagai sensasi lainnya. Data observasi yang dikumpulkan dapat
dipresentasikan dalam bentuk denah maupun diagram untuk memberikan penjelasan
terhadap fenomena yang diteliti. Data
observasi lebih banyak digunakan untuk mendukung data yang didapatkan dari
teknik pengumpulan data yang lain. Hasil
observasi akan memberikan data lebih baik jika peneliti memiliki waktu yang
cukup untuk melakukan pendalaman dalam situasi yang diteliti.
1.2
Tujuan
Tujuan pembuatan
makalah ini adalah untuk memberikan gambaran tentang pengumpulan data dalam penelitian
kualitatif melalui observasi dengan uraian :
1.
Deskripsi Observasi
2.
Keunggulan dan Keterbatasan Observasi
3.
Lokasi Observasi
4.
Janis Observasi
5.
Proses Observasi
6.
Hasil Observasi
BAB II
PENGUMPULAN DATA OBSERVASI
2.1 Deskripsi Observasi
Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menggunakan
peneliti sebagai instrumennya. Penelitian kualitatif memiliki beberapa metode
dalam pengumpulan data diantaranya adalah metode observasi. Observasi adalah
proses pengamatan yang dilakukan oleh peneliti pada waktu yang telah
ditentukan. Kegiatan observasi meliputi kegiatan dengan cara memperhatikan
dengan seksama, termasuk mendengar dengan cermat, mencatat dan mempertimbangkan
hubungan antar aspek pada fenomena yang sedang diamati (Afiyanti, 2014). Kegiatan
observasi merupakan metode yang paling dasar, menjadi gold standar dan metode
paling tua yang dipakai dalam riset kualitatif dan riset ilmu sosial (
Afiyanti, 2014). Observasi merupakan metode pengumpulan yang esensial dalam
penelitian kualitatif ( Patton, 2002), sehingga dengan kegiatan observasi peneliti
harus memiliki keterampilan dan
mempunyai waktu yang cukup untuk melakukan pendalaman dalam situasi yang akan
diteliti. Kegiatan observasi harus dilakukan sesuai kondisi partisipan, agar
peneliti dapat menangkap hal hal yang terkait fenomena yang sedang diteliti.
Kegiatan observasi ini dilakukan sealamiah mungkin atau sesuai kondisi apa
adanya, jangan dibuat buat.
2.2 Keunggulan dan Keterbatasan Observasi
Patton (2002) menyebutkan bahwa observasi memiliki beberapa
keunggulan, dimana dengan metode observasi akan di dapatkan beberapa hal yaitu
: (1) Peneliti
memahami lebih baik konteks dan fenomena yang akan diteliti; (2) Memungkinkan
peneliti bersikap terbuka, berorientasi pada penemuan daripada pembuktian; (3)
Memungkinkan peneliti melihat hal hal yang partisipan kurang sadari; (4) Peneliti memperoleh data ttg hal hal yg tidak
diungkapkan oleh partisipan ; (5) Memungkinkan peneliti merefleksikan dan
introspektif terhadap penelitian yang dilakukannya ; (6) Peneliti dapat melakukan lebih banyak persepsi
selektif yg ditampilkan subyek atau pihak lain.
Kegiatan observasi sangat
membutuhkan kemampuan dan keterampilan peneliti, dimana peneliti melihat,
memperhatikan dengan seksama partisipan saat beraktivitas atau saat
menyampaikan informasi yang terkait fenomena. Kegiatan ini membuat peneliti
langsung dapat menganalisa data dan mengevaluasi penelitian yang dilakukannya.
Terkadang saat observasi ada hal hal yang ditangkap peneliti berbeda dari teori
yang sudah ada, sehingga peneliti dapat
langsung membuat analisa dan menangkap gambaran berbeda yang dapat diangkat
dalam laporan penelitiannya.
Keterbatasan dalam metode observasi
(Patton, 2002) diantaranya adalah : (1) Memiliki
efek pada situasi yang sedang diobservasi; (2) Partisipan dapat berperilaku
yang tidak natural karena tahu sedang diobservasi; (3) Persepsi khusus dari
peneliti dapat mendistorsi data yang diobservasi;
(4) Hanya
mengobservasi perilaku eksternal yang diamati
; (5) Hasil
observasi terbatas pada aktivitas objek saat observasi dilakukan
Keterbatasan dalam pengambilan data
secara observasi adalah bahwa peneliti yang berusaha melihat secara obyektif,
namun ternyata yang ditampilkan partsipan adalah sebuah kepura puraan atau
kamuflase. Hal ini dapat menjadi sesuatu yang tidak Nampak atau tidak terlihat
sehingga dapat membuat hasil penelitian yang berbeda dari yang diharapkan.
2.3 Lokasi Observasi
Lokasi observasi sangat tergantung dari kesepakatan yang
dibuat oleh peneliti dan partisipan, karena kegiatan yang dilakukan sangat
terkait fenomena peneliti. Saat peneliti ingin meneliti fenomena partisipan di
setting tempat kerja, maka observasi dilakukan di tempat kerja. Beberapa
pengalaman dalam meneliti penelitian metode kualitatif, setting lokasi
observasi bisa dilakukan juga dirumah partisipan, sesuai kesepakatan peneliti
dan partisipan. Secara umum lokasi observasi dibagi menjadi dua tempat
(Afiyanti, 2014) yaitu setting tertutup dan setting terbuka. Adapun setting
tertutup misalnya ruang tertutup seperti kamar bedah, rapat manajemen dll.
Adapun untuk setting terbuka misalnya lokasi loby rumah sakit, koridor dll.
2.4 Jenis Observasi
Pengumpulan data melalui teknik observasi tentu
direncanakan sesuai kebutuhan data dalam penelitian. Observasi dapat dilakukan untuk memahami
kondisi awal fenomena yang akan diteliti.
Dalam hal ini, peneliti dapat melakukan observasi tanpa acuan terstruktur. Hasil observasi tersebut adalah rekaman
persepsi sensori yang diterima peneliti saat berada di lokasi penelitian. Data awal fenomena ini dapat digunakan untuk membangun
desain penelitian yang sesuai dengan tujuan penelitian. Data observasi juga dapat digunakan untuk
melengkapi data teknik pengumpulan data yang lain. Dalam hal ini, data observasi digunakan
peneliti untuk mengvalidasi data yang sudah didapati ataupun mengisi data untuk
memberi kejelasan yang lebih tepat.
Untuk itu, maka sebelum data observasi dikumpulkan, peneliti terlebih
dahulu harus menyusun acuan data-data yang harus dicari. Dengan demikian, terdapat 2 (dua) jenis
teknik dalam melakukan pengumpulan data secara observasi, yakni pengumpulan
data observasi terstuktur dan tidak terstruktur.
2.5 Proses Observasi
Observer yang terlibat sebagai partisipan dan juga
melakukan observasi, dalam pengumpulan data menurut Cresswell & Poth
(2018), dibagi menjadi 4 jenis observasi, yaitu :
1.
Partisipan penuh
(peneliti menyatu dengan partisipan yang diobservasi)
2.
Partisipan sebagai
observer (peneliti berpartisipasi dalam kegiatan, partisipan yang melakukan
observasi)
3.
Non partisipan dan
observer sebagai partisipan (peneliti berada diluar dari kelompok yang diteliti,
melakukan pengamatan dan mencatat dari jauh)
4.
Observer penuh
(partisipan sama sekali tidak mengetahui keberadaan peneliti, tak terlihat)
Melakukan observasi dalam kegiatannya membutuhkan keahlian
khusus yang syaratnya adalah menemukan issue seperti kemungkinan adanya
kecurangan dari partisipan yang di interview, mengelola impresi dan juga potensi
dari marginalisasi peneliti pada kondisi yang asing bagi peneliti. (Atkinson,
2005, dari Creswell & Poth, 2018).
Langkah-langkah prosedur dalam mempersiapkan pengambilan
data observasi menurut Creswell & Poth, 2018, adalah sebagai berikut :
·
Memilih lokasi yang
akan di observasi. Pastikan bila membutuhkan perijinan dalam mendapatkan akses lokasi
yang akan diteliti
·
Pada lokasi observasi,
identifikasi siapa dan apa yang akan diobservasi, kapan serta berapa lama
·
Bedakan jenis
observasi yang akan dilakukan, pada awalnya, dengan peran yang diasumsikan
sebagai observer. Peran berada pada rentang antara sebagai partisipan penuh
sampai sebagai observer penuh.
·
Mendisain dan
menggunakan protokol observasi sebagai metode dalam melakukan perekaman di lokasi
observasi. Termasuk dalam protokol ini baik catatan deskriptif maupun
reflektif. Pastikan catatan tanggal, tempat, dan waktu melakukan observasi
(Angrosino, 2007, dari Creswell & Poth, 2018)
·
Melakukan prekaman
berbagai aspek seperti gambaran partisipan, kondisi fisik, kegiatan atau event
khusus, dan juga reaksi diri sendiri (Bogdan & Biklen, 1992). Jelaskan apa
yang terjadi dan refleksi dari aspek ini, termasuk refleksi diri, insight, ide,
kebingungan, makna dan pemecahan masalah.
·
Membentuk laporan awal
dengan memiliki seseorang yang memperkenalkan peneliti sebagai outsider,
bersifat pasif dan supel serta memulai dengan tujuan yang terbatas pada 5
pertemua awal.
·
Sebagai observe, ikuti
prosedur observasi yang baik. Setelah melakukan observasi, secara perlahan
keluar dari lokasi observasi, memikirikan partisipan dan memebrikan informasi
kepada partisipan data saja yang akan di akses
·
Menyiapkan waktu untuk
mencatat yang memiliki data bermakna dan kaya secara naratif atau deskriptif
setelah melakukan observasi. Berikan penjelasan penuh dari orang, kejadian yang
dilakukan observasi.
Diagram. Prosedur Pengambilan Data Observasi (Creswell
& Poth, 2018, page 235)
2.6 Hasil Observasi
Teknik analisis data adalah upaya yang
dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data,
memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari
dan menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang
dapat diceritakan kepada orang lain. Presentasikan data hasil observasi agar
sesuai dengan tujuan penelitian, beberapa pilihan yang dapat dipertimbangkan
antara lain (Patton,2002) :
2.6.1.
Mempresentasikan secara kronoligis
peristiwa yang diamati, mulai dari awal hingga akhir.
2.6.2.
Mempresentasikan insiden-insiden kritis
atau peristiwa-peristiwa kunci (key
events), berdasarkan urutan kepentingan peristiwa tersebut.
2.6.3.
Mendeskripsikan setiap tempat, setting
dan atau lokasi yang berbeda sebelum mempresentasikan gambaran dan pola umumnya.
2.6.4.
Memfokuskan analisa dan presentasi pada
individu atau kelompok, bila individu tersebut menjadi unit analisis primer.
2.6.5.
Mengorganisasi data dengan menjelaskan
proses-proses yang terjadi (missal: proses seleksi, proses pengambilan
keputusan, prosese komunikasi, dan lain sebagainya).
2.6.6.
Memfokuskan pengamatan pada isu-isu
utama, yang diperkrakan akan sejalan dengan upaya menjawab pertanyaan utama
penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Afiyanti, Yati., Rachmawati, Imami N.
(2014). Metodologi penelitian kualitatif dalam riset keperawatan.
Jakarta : Rajawali Pres
Patton,M.Q.(2002). Qualitative
research & evaluation methods. 3th ed. Thousand Oaks: Sage
Publications.
Creswell, J.W., Poth, C.N. Qualitative
Inquiry & Research Design; Choosing among five approaches. 4th
Edition. (2018). USA: SAGE.
Mohon ijin bertanya, bagaimana tips melakukan observasi agar partisipannya alamiah atau tidak dibuat-buat. Trimakasih
BalasHapusizin menjawab pertanyaan pak Tony, berdasarkan pengalaman, saya membuat kesepakatan dengan partisipan untuk partisipan bersikap senyamannya, atau istilahnya biasa saja, seperti kita sedang ngobrol dan diskusi. Hal ini dapat membuat partisipan juga lebih rileks dan nyaman saat dilakukan observasi dan kegiatan wawancara.
HapusTerimakasih Pak Tony atas pertanyaan nya, ijin menambahkan jawaban dari Bu Jathu, salah satu tips yang bisa digunakan agar partisipan alamiah, bisa dengan menggunakan peran peneliti sebagai observer (Creswell & Poth, 2018), dimana bila peneliti sebagai observer penuh, maka partisipan sama sekali tidak diberitahu keberadaan observer/peneliti, sehingga partisipan sama sekali tidak bisa melihat observer
HapusIzin menambahkan jawaban Bu jathu dan Bu Umi untuk pertanyaan Pak Toni, tips melakukan observasi agar partisipannya alamiah atau tidak dibuat-buat adalah dengan melakukan pengamatan secara langsung pada populasi dengan tempat yang secara alamiah memang menjadi tempat mereka biasanya berinteraksi pada waktu dan kebutuhan tertentu, misal observasi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana siswa-siswa memanfaatkan waktu senggang mereka, baik sebelum, sesudah pelajaran, dan ketika mereka beristirahat. Observasi terhadap siswa jugadapat dilakukan di tempat rekreasi, taman sekolah, tempat bermain, rumah, bar, gedung film, dan lain sebagainya. Peneliti dapat melakukan observasi dengan cara ikut berpartisipasi dalam setiap kegiatan siswa seperti duduk-duduk di tempat umum, bercengkerama sambil mencatat apa saja yang
Hapusterjadi.
Mohon penjelasan lebih lanjut tentang contoh observasi terstruktur dan tidak terstruktur. Apakah mirip dengan wawancara terstruktur dan tidak terstruktur dimana terdapat instrumen dalam pengumpulan data yang rinci?
BalasHapusIzin menjawab Bu dita, Obervasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis dalam artian peneliti sudah mengetahui secara terstruktur pengambilan datanya, mengetahui dengan jelas variabel yang akan diamati. sedangkan yang Observasi tidak terstruktur belum dilakukan langkah2 atau rancangan atau protokol dan terjadi ketika penelitian belum mengetahui apa yang akan di amati dan belum jelas arah dalam pengambilan datanya. Jadi, dapat disimpulkan dari segi pengertiannya sama hampir dengan wawancara yang terstruktur dan tidak terstruktur. Contoh nya misal kita mau Observasi Perilaku Merokok seseorang, jika obervasi terstruktur maka dipersiapkan hal-hal yang diperlukan ketika akan mengobservasi misalnya di observasi dengan cara dua arah yaitu juga di rekam secara diam-diam perilaku yang dilakukan. Kurang lebih seperti itu bu..terima kasih
HapusTerima kasih pak Umam penjelasannya..
HapusTerimakasih atas pertanyaan nya Bu Ditha, mohon ijin menambahkan jawaban dari Pak Umam, terkait dengan pengambilan data secara observasi , bila dilakukan secara terstruktur, maka mengikuti prosedur atau langkah-langkah seperti dijelasakan oleh Creswell & Poth (2018), yaitu sebagai berikut :
Hapus• Memilih lokasi yang akan di observasi.
• Pada lokasi observasi, identifikasi siapa dan apa yang akan diobservasi, kapan serta berapa lama
• Bedakan jenis observasi yang akan dilakukan, pada awalnya, dengan peran yang diasumsikan sebagai observer.
• Mendisain dan menggunakan protokol observasi sebagai metode dalam melakukan perekaman di lokasi observasi. T
• Melakukan prekaman berbagai aspek seperti gambaran partisipan, kondisi fisik, kegiatan atau event khusus, dan juga reaksi diri sendiri (Bogdan & Biklen, 1992).
• Membentuk laporan awal dengan memiliki seseorang yang memperkenalkan peneliti sebagai outsider
• Sebagai observe, ikuti prosedur observasi yang baik.
• Menyiapkan waktu untuk mencatat yang memiliki data bermakna dan kaya secara naratif atau deskriptif setelah melakukan observasi.
Demikian tambahan dari saya Bu Ditha, Terimakasih
Izin menambahkan untuk pengambilan data observasi juga dapat dilakukan oleh peneliti sendiri, yakni peneliti langsung ke lokasi penelitian, dan boleh oleh orang lain dimana orang tersebut merupakan orang yang mengenal lokasi penelitian dan fenomena penelitian tersebut dengan baik. Pengambilan data oleh peneliti langsung disebut pengamatan/observasi langsung, dan jika data pengamatan dari orang lain disebut pengamatan/observasi tidak langsung
BalasHapus