Langsung ke konten utama

KELP 4_RISET KUALITATIF_PENGUMPULAN DATA







METODE PENELITIAN KUALITATIF:

PRINSIP PENGUMPULAN DATA

 

 


(Disusun untuk memenuhi penugasan pada M.K. Metode Penelitian Kualitatif)

 

Oleh:

KELOMPOK 4

 

Arianti

(NPM: 2106769931)

Dewy Haryanti Parman

(NPM: 2006566242)

Elsa Naviati

(NPM: 2006512492)

Indanah

(NPM: 2106683082)

Ratna Aryani

(NPM: 2006512536)

Sukma Wicaturatmashudi

(NPM: 1906341914)

 

 

 

 

PROGRAM STUDI S3 ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS INDONESIA

FEBRUARI, 2022

 

PRINSIP PENGUMPULAN DATA


A.      Konsep pengumpulan data

 

Inquiry, disebut juga proses investigasi atau penelitian, merupakan proses dialog dengan partisipan, data, kejadian-kejadian di sekitar proses penelitian, dan pengumpul data merupakan individu yang selalu melakukan introspeksi atau sebagai anggota tim yang selalu menjaga interaksi (Hall, 2003 dalam Streubert dan Carpenter, 2011). Oleh sebab itu, untuk menghasilkan penelitian kualitatif yang berkualitas tinggi, peneliti harus memastikan bahwa pertanyaan penelitian sudah jelas.  Jika pertanyaan penelitian sudah jelas, maka metode yang dipilih untuk menjawab pertanyaan akan tepat, dan orang dan  sumber data yang dibutuhkan tersedia. Setelah semua lengkap, peneliti mulai mengumpulkan data. Saat pertama kali data dikumpulkan, maka data harus dianalisis dan disintesis. Kesimpulan dirumuskan dan dinyatakan dalam implikasi praktik.

 

Streubert dan Carpenter, (2011), menjelaskan berbagai strategi yang dapat digunakan untuk menghasilkan data penelitian kualitatif. Strategi tersebut antara lain: wawancara, observasi, narasi, dan kelompok focus. Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan dalam memilih metode pengumpulan data kualitatif adalah: pertanyaan yang diajukan, pendekatan yang dipilih, sensitivitas topik penelitian, dan sumber daya yang tersedia. Sebagai contoh, jika peneliti akan melakukan penelitian tentang pengalaman rasa nyaman pada pasien di rumah perawatan, maka partisipan yang menyetujui mengikuti penelitian akan lebih nyaman diwawancarai dalam focus group dibandingkan wawancara satu-per satu. Sebagai peneliti, kita harus berhati-hati dalam menemukan tujuan penelitian untuk disesuaikan dengan strategi metode terbaik dalam pengumpulan data.

 Penelitian kualitatif melibatkan panorama yang luas, data yang banyak dan komplek, terkadang membuat peneliti kualitatif pemula kewalahan. Oleh sebab itu, disarankan para peneliti kualitatif untuk terlibat penuh di tempat penelitian, dan berinteraksi langsung partisipan-partisipan yang terpilih dalam penelitiannya. Semua data akan didapatkan in situ, yang berarti bahwa data yang didapatkan natural, interaksi terjadi dalam suasana alami, dan tidak ada rekonstruksi atau yang dikeluarkan dari konteks (seperti kondisi di laboratorium). Hal ini menunjukkan sebagian besar data diperoleh melalui observasi langsung dari perilaku partisipan. (Cresswell, 2009 dalam Moore & Dolly, 2017).

 Sebelum memulai pengambilan data dalam penelitian kualitatif, kita perlu mengenal karakteristik penelitian kualitatif. Williams (2008) dalam Ahyar, dkk (2020), menyebutkan terdapat 11 karakteristik penelitian kualitatif, yaitu:

1.     Pengumpulan data dilakukan dalam latar yang wajar/alamiah (natural settings). Penelitian kualitatif lebih tertarik menelaah fenomena-fenomena sosial dan budaya dalam suasana yang berlangsung secara wajar/alamiah, bukan dalam kondisi yang dikendalikan atau laboratoris sifatnya.

2.     Peneliti merupakan instrumen utama dalam mengumpulkan dan menginterpretasikan data. Alat-alat yang lain seperti angket, tes, film, pita rekaman, dan sebagainya hanyalah sebagai alat bantu (bila memang diperlukan); bukan pengganti peneliti itu sendiri sebagai pengkonstruksi realitas atas dasar pengalamannya di medan penelitian.

3.     Kebanyakan peneliti kualitatif sangat kaya dan sarat dengan deskripsi. Peneliti yang terdorong untuk memahami fenomena secara menyeluruh tentunya harus memahami segenap konteks dan melakukan analisis yang holistik, yang tentu saja perlu dideskripsikan. Laporan penelitian kualitatif biasanya juga berisi sintesis dan abstrak kesimpulan-kesimpulan.

4.     Meskipun penelitian kualitatif sering memperhatikan hasil dan akibat dari berbagai variabel yang saling membentuk secara simultan, namun lebih lazim menelaah proses-proses yang terjadi, termasuk di dalamnya bagaimana berbagai variabel itu saling membentuk dan bagaimana orang-orangnya saling berinteraksi dalam latar alamiah yang menjadi medan penelitian.

5.     Kebanyakan penelitian kualitatif menggunakan analisis induktif, terutama pada tahap-tahap awalnya. Dengan demikian, akan terbuka kemungkinan munculnya masalah dan fokus penelitian pada hal-hal yang memang mendesak dan bernilai. Jadi, peneliti tidak berpegang pada masalah yang telah dibatasi sebelumnya (pre-defined issues). Walau demikian, analisis deduktif juga digunakan, khususnya pada fase-fase akhir (seperti penggunaan analisis kasus negatif atau negative case analysis). Makna dibalik tingkah laku manusia merupakan hal esensial bagi penelitian kualitatif. Peneliti tidak hanya tertarik pada apa yang dikatakan atau dilakukan manusia yang satu terhadap manusia lainnya, tetapi juga pada maknanya dalam sudut pandangan mereka masing-masing.

6.     Penelitian kualitatif menuntut sebanyak mungkin kepada penelitiannya untuk melakukan sendiri kegiatan penelitian di lapangan (sebagai tangan pertama yang mengalami langsung di lapangan). Ini tidak hanya akan membantu peneliti dalam memahami konteks dan berbagai perspektif dari orang yang sedang diteliti, tetapi juga supaya mereka yang diteliti menjadi lebih terbiasa dengan kehadiran peneliti di tengah-tengah mereka sehingga “efek pengamat” (the observer effect) menjadi seminimal mungkin adanya.

7.     Dalam penelitian kualitatif terdapat kegiatan triangulasi yang dilakukan secara ekstensif, baik triangulasi metode (menggunakan lintas metode dalam pengumpulan data) maupun triangulasi sumber data (memakai berbagai sumber data yang relevan) dan triangulasi pengumpul data (beberapa peneliti yang mengumpulkan data secara terpisah). Ini sebagai upaya verifikasi atas data yang ditemukan. Orang yang diteliti diperhitungkan sebagai partisipan, konsultan. Atau kolega peneliti dalam menangani kegiatan penelitian. Jarang, orang yang distudi tersebut dianggap sebagai “subjek” apalagi “objek” penelitian.

8.     Perspektif emic/partisipan sangat diutamakan dan dihargai tinggi dalam penelitian kualitatif. Minat peneliti banyak tercurah pada bagaimana persepsi dan makna-makna menurut sudut pandangan partisipan yang sedang diteliti sehingga bisa menemukan apa yang disebut dengan fakta fenomenologis.

9.     Pada penelitian kualitatif, hasil atau temuan penelitian jarang dianggap sebagai “temuan final” sepanjang belum ditemukan bukti-bukti kuat yang tak tersanggah melalui bukti-bukti penyanggah (contrary evidence). Bila belum sampai ketingkat itu, penelitian kualitatif biasanya sekedar mengajukan hipotesis yang belum secara final terbuktikan.

10.  Pengambilan sampel biasanya dilakukan secara purposif rasional (logical, purposive sampling). Di sini, penelitian harus dapat menjelaskan kenapa orang-orang tertentu yang dijadikan sampel, serta mengapa latar-latar tertentu yang diobservasi. Tentu saja, tak semua keadaan dapat tercakup dalam suatu kegiatan penelitian. Rancangan sampel probabilitas atau rancangan sampel statistik biasanya tidak digunakan dalam penelitian kualitatif meskipun tidak berarti menolaknya.

11.  Baik data kuantitatif maupun data kualitatif dalam penelitian kualitatif sama-sama digunakan. Penelitian kualitatif tidaklah menolak data yang menunjuk pada “seberapa banyak” dari sesuatu.

 

B.    Pertimbangan etik dalam tahap pengumpulan data

Issue Etik dalam penelitian kualitatif harus selalu menjadi pertimbangan peneliti. Sesederhana apapun penelitian yang dilakukan, tetap memiliki resiko. Resiko tersebut dapat berupa resiko pada awal persetujuan calon responden, ketidaknyamanan saat proses pengumpulan data atau ketidaknyamanan paparan hasil riset/ penelitian (Creswell, 2009).

 Isu Etik dalam tahap pengumpulan data berkaitan dengan metode pengumpulan data yang di pilih, apakah wawancara, observasi atau metode yang lain (Afiyati, Yati., Rachmawati, 2014). Pada proses pengumpulan data, ada beberapa kemungkinan adanya ketidaknyaman secara psikologis. Ketidaknyamanan psikologis bisa terjadi pada saat pengambilan data seperti wawancara dimana pada proses wawancara yang mengungkap peristiwa kehidupan yang bersifat traumatic, atau stress yang terjadi karena kelelahan psikis pada partisipan (Afiyati, Yati., Rachmawati, 2014). Peneliti harus mempertimbangkan berbagai issue etik sebagai dasar pemenuhan hak hak partisipan.

   Tujuan Etika Penelitian

Chauhan, N.B (n.d), Walton, N.(n.d) menyebutkan tujuan adanya etika penelitian, yaitu:

  1. Melindungi subyek penelitian, terutama jika dilakukan pada manusia.
  2. Memastikan bahwa penelitian dilakukan untuk melayani kepentingan perorangan, kelompok dan/atau masyarakat secara keseluruhan.
  3. Memeriksa aktivitas penelitian apakah memenuhi prinsip etik atau tidak, melihat isu-isu seperti manajemen risiko, melindungi kerahasiaan dan proses informed consent.
  4. Agar tidak mengulangi sejarah dimana pernah terjadi penyalahgunaan ataupun mengulangi kesalahan, terutama jika melakukan penelitian biomedis.
  5. sebagai peneliti harus mempertimbangkan kebutuhan orang-orang yang menjadi subyek penelitian, dengan memberikan pengawasan yang tepat menjadi dasar untuk saling percaya antara peneliti dan subyek penelitian.

Prinsip Dasar Etik

Kemenkes (2011) menyatakan bahwa prinsip dasar etik yang harus dipenuhi adalah:

1.     Prinsip menghormati harkat martabat manusia (respect for persons).

Prinsip ini ada sebagai bentuk penghormatan terhadap harkat martabat manusia yang memiliki kebebasan berkehendak atau memilih dan sekaligus bertanggung jawab secara pribadi terhadap keputusannya sendiri. Adapun tujuan prinsip ini adalah:

  1. menghormati otonomi, dimana seseorang mempunyai kemampuan untuk mengambil keputusan secara mandiri (self-determination)
  2. melindungi manusia yang otonominya terganggu atau kurang, misalnya pada seseorang yang mempunyai ketergantungan (dependent) ataupun pada kelompok rentan (vulnerable) sehingga perlu diberikan perlindungan terhadap kerugian atau penyalahgunaan (harm and abuse).

 

 2. Prinsip berbuat baik (beneficence) dan tidak merugikan (non-maleficence).

Prinsip ini harus mengupayakan kebermanfaatan seoptimal mungkin dan meminimalisir kerugian terhadap obyek penelitian, terutama jika dilakukan pada manusia. Prinsip beneficence ini mensyaratkan beberapa hal, yaitu:

a.       risiko penelitian harus wajar (reasonable) dibanding manfaat yang diharapkan,

b.       desain penelitian harus memenuhi persyaratan ilmiah (scientifically sound)

c.       para peneliti mampu melaksanakan penelitian dan sekaligus mampu menjaga kesejahteraan subyek penelitian

d.       diikuti prinsip do no harm (non-maleficence, tidak merugikan), yang menentang segala tindakan yang dengan sengaja merugikan subyek penelitian.

Prinsip non-maleficence mempunyai arti bahwa jika penelitian yang dilakukan menyatakan tidak mempunyai kebermanfaatan terhadap obyek penelitian, maka setidak-tidaknya tidak membuat kerugian kepada subyek penelitian. Prinsip ini bertujuan agar subyek penelitian tidak diperlakukan sebagai sarana sekaligus juga memberikan perlindungan terhadap tindakan penyalahgunaan.

 3.             Prinsip keadilan (justice).

Prinsip keadilan berarti seorang peneliti harus memperlakukan subyek penelitian dengan layak dalam memperoleh haknya, termasuk dalam hal pembagian beban dan manfaatnya. Hal ini dilakukan dengan memperhatikan distribusi usia, gender, status ekonomi, budaya dan suku. Perbedaan dalam distribusi beban dan manfaat hanya dapat dibenarkan jika didasarkan pada perbedaan yang relevan secara moral antara orang-orang yang diikutsertakan. Salah satu perbedaan perlakuan tersebut adalah kerentanan (vulnerability). Adapun yang disebut dengan kelompok rentan adalah ketika seseorang atau kelompok tersebut tidak mampu melindungi kepentingan diri sendiri, sulit memberi persetujuan, kurangnya kemampuan untuk menentukan pilihan, usia terlalu muda atau berkedudukan rendah pada hirarki kelompoknya.

 C.     Langkah-langkah dalam pengumpulan data

Menurut Cresswel 2005 dalam Manzilati 2017 menjelaskan bahwa langkah-langkah dalam pengumpulan data penelitian kualitatif adalah sebagai berikut:

1.     Identifikasi masalah penelitian

Peneliti mengemukakan masalah yan perlu diselesaikan. Pada tahap ini peneliti menguraikan isu yang berkaitan dengan topik yang diangkat, membangun penjelasan untuk meneliti topik tersebut, kemudian mengemukakan pentingnya meneliti topik tersebut.

2.     Review literatur

Peneliti melakukan telaah literatur yang menunjang topik penelitiannya

3.     Menentukan tujuan penelitian

Peneliti menentukan tujuan penelitian sesuai dengan fenomena yang didapatkan

4.     Mengumpulkan data

Peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan metode atau teknik yang sesuai

5.     Analisa dan interpretasi data

Setelah data dikumpulkan peneliti perlu memaknai data tersebut dalam konteks penelitian yang dilakukan. Tahap ini mencakup penguraian data kemudian menyatukan Kembali dalam bventuk yang ringkas, menampikan data dalam bentuk tabel, diagram atau ringkasan kemudian memberikan penjelasan tentang kesimpulan dari data yang dapat menjawab pertanyaan penelitian.

6.     Melaporkan dan evaluasi penelitian

Peneliti menuliskan laporan penelitian yang telah dilakukan. Proses evaluasi penelitian dilakukan oleh pembaca dari latar belakang berbeda. Melalui evaluasi ini maka akan muncul masalah baru atau masalah yang lebih mendalam untuk melanjutkan penelitian berikutnya.



Matthew B. Miles dan A. Michael Huberman (1992) menjelaskan tahapan penelitian kualitatif meliputi langkah-langkah sebagai berikut: membangun kerangka konseptual, merumuskan permasalahan penelitian, pemilihan sampel dan pembatasan penelitian, instrumentasi, pengumpulan data, analisis data dan matriks serta pengujian kesimpulan.

 

Kusumastuti dan Khoiron 2019 menjelaskan prosedur dalam proses pengumpulan data dapat dibedakan menjadi dua tahap, yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum dilakukannya pengumpulan data meliputi hal-hal yang bersifat konseptual, teknis dan administratif.

1.     Tahap Persiapan

Persiapan yang bersifat konseptual tentang kejelasan tujuan pengumpulan data, variabel yang hendak diukur, instrumen yang akan digunakan, serta sumber dan jenis data yang akan dikumpulkan. Tujuan pengumpulan data harus dirumuskan secara operasional.

2.     Kejelasan variabel yang hendak diukur sangat perlu diusahakan agar proses pengumpulan data dapat berjalan lancar dan hasil yang diperoleh sesuai dengan yang direncanakan. Selain itu, variabel yang telah dijabarkan secara rinci dan operasional sangat memudahkan peneliti untuk menyusun instrumen pengumpul data. Apabila ketiga hal tersebut (tujuan, variabel, dan instrumen penelitian) telah jelas, maka dapat diharapkan sumber dan jenis data yang dikumpulkan akan menjadi jelas.

3.     Persiapan teknis

Persiapan yang bersifat teknis dalam rangka pengumpulan data meliputi persiapan petugas pengumpul data, pemeriksaan kelengkapan instrumen, serta penyaiapan logistik dan perlengkapan lainnya. Apabila peneliti meminta bantuan orang lain sebagi petugas pengumpul data, maka peneliti harus yakin bahwa petugas tersebut telah dilengkapi dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai sebelum mereka diterjunkan ke lapangan. Kualifikasi ini merupakan keharusan, karena kenyataannya bahwa beberapa instrumen pengumpul data menuntut pemahaman, keterampilan, dan kemahiran petugas pengumpul data, seperti tes psikologis yang telah dibakukan. Oleh sebab itu, petugas pengumpul data perlu disiapkan secara matang dengan memberi penjelasan atau latihan tentang langkah-langkah dan cara mengumpulkan data.

4.     Pemeriksaan kelengkapan instrumen penelitian juga harus dilakukan dengan cermat agar pekerjaan pengumpulan data dapat berjalan dengan lancar, sehingga bisa diselesaikan sesuai dengan rencana. Demikian juga sama halnya dengan kecukupan logistik dan perlengkapan pengumpul data yang lain.

5.     Aspek administratif

Peneliti harus menyiapkan administrasi sebelum melakukan pengumpulan data. Peneliti harus memperoleh ijin dari pejabat yang berwenang untuk melakukan penelitian.

 Pada tahap pengumpulan data, peneliti harus memilih metodologi dan alat pengumpulan data. Adapun langkah pengumpulan data menurut Mardawani tahun 2020 adalah: menentukan subjek, menentukan rancangan atau pendekatan penelitian, memilih teknik atau metode pengumpul data, menentukan keabsahan data serta menentukan metode analisis data.

 Penentuan subjek penelitian sangat diperlukan untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas karena data yang diambil mewakili populasi. Jumlah subjek akan terus bertambah sesuai dengan tujuan peneliti hingga data jenuh. Penambahan subjek penelitian bergulir sesuai tujuan penelitian (Mardawani, 2020).

 Rancangan atau pendekatan merupakan metode atau cara melaksanakan penelitian. Pemilihan metode pada kualitatif cenderung disesuaikan dengan permasalahan yang hendak dikaji. Pengumpulan data merupakan kegiatan yang krusial dalam pengambilan data. Agar data yang dikumpulkan valid maka Teknik yang dipilih harus tepat. Ketepatan dalam pemilihan instrumen membantu mempermudah peneliti dalam menghasilkan data (Mardawani, 2020).

 

Menurut Mardawanni 2020, pada saat proses pengambilan data, peneliti harus memastikan keabsahan data yang didapatkan. Dalam menguji keabsahan data penelitian maka dapat dilakukan triangulasi sebagai bagian dari pengujian tingkat kredibilitas. Triangulasi terdiri atas triangulasi sumber, triangulasi Teknik dan trianguasi waktu.

1.     Triangulasi sumber

Triangulasi sumber untuk mnguji kredibilitas data dengan mengecek data yang diperoleh melalui beberapa sumber sehingga adat tersebut dapat dicek dan dibandingkann dengan data dari beberapa sumber yang lain.

2.     Triangulasi teknik

Triangulasi ini dilakukan dengan cara mengecek data sumber yang sama dengan Teknik yang berbeda. Misal data diperoleh melalui wawancara kemudian dicek menggunakan observasi dan dokumentasi.



3.     Triangulasi waktu

Triangulasi waktu sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpulkan pagi hari dengan situasi yang mendukung mungkin akan  memberikan data yang lebih valid. Meskipun tidak mutlak namun peneliti sebaiknya melakukan pengambilan data di berbagai waktu pada responden yang sama.


   DAFTAR PUSTAKA

 

 

Afiyati, Yati., Rachmawati, I. N. (2014). Metodelogi Penelitian Kualitatif dalam Riset Keperawatan. In Rajawali Pers (1st ed., Vol. 1, Issue 1). Rajawali Pers.

Ahyar, H., Maret, U. S., Andriani, H., Sukmana, D. J., Hardani, S. P., MS, N. H. A., ... & Istiqomah, R. R. (2020). Buku Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Yogyakarta: CV. Pustaka Ilmu.

Chauhan, N.B (n.d). Research and research ethics. Diunduh di http://www.aau.in/sites/default/files/Unit%203%20RESEARCH%20AND%20RESEARCH%20ETHICS%20(Repaired).pdf

Creswell, J. W. (2009). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches. In Intercultural Education (3rd ed., Vol. 20, Issue 2). SAGE Publications Asia-Pasific Pte.Ltd. https://doi.org/10.1080/14675980902922143

Kemenkes (2011). Pedoman Nasional Etik Penelitian Kesehatan. Diunduh di http://www.ke.litbang.kemkes.go.id/kom14/wp-content/uploads/2017/12/Pedoman-Nasional-Etik-Penelitian-Kesehatan-2011-Unedited-Version.pdf

Kusumastuti, A., & Khoiron, A.M. (2019). Metode Penelitian Kualitatif. Semarang: Lembaga Pendidikan Sukarno Pressindo.

Manzilati, A. (2017). Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma, Metode dan Aplikasi. Malang: UB Press.

Mardawani. (2020). Praktis Penelitian Kualitatif: Teori Dasar dan Analisis Data Dalam Perspektif Kualitatif. Yogyakarta: CV Budi Utama.

Miles, Mathew B., & Huberman A. Maichel, (1992), Analisis Data Kualitatif ; Buku Sumber Tentang Metode-metode Baru (Penerjemah Tjetjep Rohendi Rohidi), jakarta : UI-PRESS.

Moore, E., & Dooly, M. (Eds.). (2017). Qualitative approaches to research on plurilingual education/Enfocaments qualitatius per a la recerca en educació plurilingüe/Enfoques cualitativos para la investigación en educación plurilingüe. Research-publishing. net.

Streubert, H. J., & Carpenter, D. R. (2011). Qualitative research in nursing: Advancing the humanistic imperative. Lippincott Williams & Wilkins.

Walton, N. A., Karabanow, A. G., & Saleh, J. (2008). Students as members of university-based academic research ethics boards: A natural evolution. Journal of Academic Ethics6(2), 117-127. Family Health International (n.d). Qualitative Research Methods: A Data Collector’s Field Guide. UK : Family Health International















 

Komentar

  1. Tulisan ini merupakan hasil diskusi dari kelompok 4, tentang prinsip pengumpulan data pada penelitian kualitatif, mohon diskusi dan tanggapan dari teman teman semua... trimakasih

    BalasHapus
  2. Tulisan yang sangat menarik..
    ijin bertanya, jika saat mengumpulkan data, partisipan tiba2 memberikan informasi yang tidak sesuai dan mengalihkan pembicaraan, apakah yang harus dilakukan oleh peneliti dalam hal ini dan bagaimana kah tips dan triknya agar data yang kita kumpulkan itu sesuai dengan tujuan penelitian kita?

    Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trimakasih mba tuti...
      Selama pengumpulan data terutama pada saat wawancara.. pastinya penulis punya outline garis besar data yg harus d dapatkan sesuai dg rencana penelitiannya.
      Peneliti hrs sensitif terhadap respon dr partisipan.. jika partisipan mberikan informasi yg danggap tidak sesuai.. beri sedikit ruang untuk partisipan..( artinya tdk memaksa) tetapi tetap hrs melihat kondisi partisipan.. jika sdh memungkinkan.. peneliti hrs fokus kembali sesuai dg topik dan outline wawancara yg dilakuka ..
      Semoga bs memberi penjelasan kepada mba tuti.. trimakasih..

      Hapus
    2. Terima kasih pertanyaannya Bu Tuti, pertanyaan yang menarik. Dalam proses pengambilan data, peneliti harus berpegang teguh pada rumusan pertanyaan penelitian dan tujuan penelitian. Teknik focussing menjadi penting untuk mengembalikan partisipan pada jawaban yang dituju.

      Hapus
    3. Terima kasih bu tuti atas pertanyaanya. Ijin menjawab : Dalam penelitian kualitatif memang banyak sekali faktor yang berpengaruh saat pengumpulan data karena melibatkan partisipan langsung dan dalam waktu yang relatif lebih lama interaksinya dibanding kuantitatif. Teknik untuk mengatasi masalah tsb kita tetap fokus pada panduan pertanyaan yang telah kita susun, kita akan fokuskan partisipan sesuai dengan informasi yang kita inginkan. Jika memang situasi itu karena pengaruh faktor internal partisipan misal ada masalah pribadi atau kelelahan maka kita bisa atur jadwal ulang atau jika memang faktor tersebut tidak memaungkinkan kita melanjutkan wawancara karena kondisi patologis internal partisipan maka dipertimbangkan mengeluarkan partisipan dalam penelitian. Demikian. tk

      Hapus
    4. Terimakasih jawabannya bapak/ibu klp 4

      Hapus
  3. Adakah isu etik terbaru dalam penelitian kualitatif saat pengumpulan data selain stres, kelelahan? Apakah ada bukti-bukti empiriknya terkait isu etik tersebut?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Pak Sukarmin atas pertanyaanya. Issue etik lainnya adalah masalah anonymity dan confidentiality, pada saat informed consent ddam pengambilan data melalui telpon. Terkadang saat pengambilan data melalui telpon, yang menjawaab adalah suami, atau keluarga yang lain. Dalam kondisi ini, peneliti menjelaskan tujuan menelpon adalah untuk melakukan follow up pada data yang pernah diberikan, dan meninggalkan pesan dan nomer telpon, sehingga partisipan bisa menghubungi balik ke peneliti. Kemudian peneliti bisa menggunakan head-phones sehingga jawaban pasien tidak terdengar oleh orang lain yang ada mungkin ada di sekitar peneliti. Terima kasih

      Hapus
    2. Bukti empirik bisa dilihat dalam link berikut ya Pak Karmin https://www.researchgate.net/publication/328019725_Ethical_Considerations_in_Qualitative_Study/link/5bc535e4a6fdcc03c788c584/download

      Hapus
    3. Issue etik dalam penelitian desain apapun jika melibatkan manusia sebagai subjek penelitian pada dasarnya sama tetapi dalam pendekatan kualitatif ada sedikit perbedaan karena pendekatan pengumpulan data yang memungkinkan interaksi lebih lama, lebih dekat dan lebih mendalam. Issue etik yang paling mendasar selalu berkaitan dengan hak asasi dari partisipan.
      Terdapat pertanyaan-pertanyaan etis yang mungkin muncul dalam penelitian kualitatif. Termasuk di dalamnya, yaitu pertanyaan tentang konsekuensi positif dan manfaat penelitian, persetujuan subjek berupainformed consent, kerahasiaan dan anonimitas, konsekuensi negatif penelitian serta posisi dan peran peneliti. Isu-isu tersebut dapat muncul dalam setiap tahapan penelitian. Tahapan yang mungkin memunculkan isu etis, yaitu pada tahap pemilihan tema atau topik, penyusunan desain, pada proses pengumpulan data dan transkrip, analisis dan interpretasi serta pelaporan dan publikasi. Adapun hal-hal pokok penting terkait etika dalam penelitian, yaitu terdapat penyelewengan ilmiah, kemungkinan adanya penipuan dan plagiarisme dalam penelitian. Selain itu pada informed consent, subjek menyatakan kesediaan untuk terlibat dalam penelitian. Ada pula kerahasiaan dan anonimitas di mana identitas subjek disembunyikan, tetapi transkrip boleh dibaca pihak yang berkepentingan. Selain itu, ada pula konsekuensi dan manfaat penelitian. Usahakan seminimal mungkin dampak yang mungkin muncul. Dan, pada independensi peneliti, masalah etis dapat muncul pada penelitian sponsor atau didanai pihak tertentu. Jangan sampai penulisan laporan didikte oleh pihak sponsor.

      Pokok-pokok penting terkait dengan etika penelitian :
      Tindakan penyelewengan ilmiah (Scientific Misconduct)
      Cara memperlakukan Subjek Penelitian (Informed Consent)
      Kerahasian dan Anonimitas
      Konsekuensi dan manfaat penelitian
      Independensi Peneliti
      Batasan-batasan mengenai apa yang diteliti


      Article Source: https://www.psikologimultitalent.com/2016/05/isu-etis-dan-pokok-penting-etika-dalam.html

      Hapus
    4. Tk atas pertanyaannya, Pak Sukarmin.

      Menurut saya isu etik saat pengumpulan data selain stres ataupun kelelahan adalah adanya pemberian informasi yang tidak benar, hoax ataupun pemberian informasi yang kurang lengkap kepada partisipan.

      Terkait pemberian informasi yang kurang lengkap, biasanya peneliti tidak secara langsung melakukan hal tersebut, namun dilakukan dengan cara tidak memberikan alasan mengapa partisipan dipilih untuk penelitian tersebut ataupun tidak memberikan informasi yang akurat kepada peserta bertentangan dengan penelitian sehingga partisipan dapat membuat keputusan terbaik apakah mereka berpartisipasi atau tidak.

      Link : https://research.virginia.edu/irb-sbs/deception-andor-withholding-information-participant

      Hapus
  4. Mohon ijin bertanya kepada kelompok 4, jika data atau informasi yang dihasilkan pada tahap triangulasi sumber atau triangulasi teknik, atau trianguasi waktu menunjukkan hasil yang berbeda apakah yang sebaiknya peneliti kualitatif lakukan? Apakah melanjutkan ke sumber lainnya? terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Mb Dyah atas pertanyaannya..
      Triangulasi dimaksudkan untuk Triangulasi pada hakikatnya merupakan pendekatan multimetode yang dilakukan peneliti pada saat mengumpulkan dan menganalisis data. Ide dasarnya adalah bahwa fenomena yang diteliti dapat dipahami dengan baik sehingga diperoleh kebenaran tingkat tinggi jika didekati dari berbagai sudut pandang. Memotret fenomena tunggal dari sudut pandang yang berbeda-beda akan memungkinkan diperoleh tingkat kebenaran yang handal. Karena itu, triangulasi ialah usaha mengecek kebenaran data atau informasi yang diperoleh peneliti dari berbagai sudut pandang yang berbeda dengan cara mengurangi sebanyak mungkin bias yang terjadi pada saat pengumpulan dan analisis data. Bila memungkinkan peneliti dapat mengulang kembali bertemu partisipan untuk mendapatkan kebenaran data, namun apabila data yang diberikan sama sekali tidak ada keajegan atau berubah ubah dan menyulitkan peneliti mengetahui kondisi sesungguhnya maka peneliti dapat melanjutkan dengan partisipan yang lain.
      Terimakasih..

      Hapus
  5. Assalamualaikum Wr.Wb. Terimakasih atas paparan materi tentang etik yang sangat menarik. Mohon ijin bertanya untuk kelompok 4, bagaimana jika penelitian yang dilakukan, misalnya menggali pengalaman yang mungkin menggali hal yang traumatis bagi partisipan, misalnya jika peneliti ingin menggali pengalaman kehilangan anggota keluarga karena suatu penyakit (misal nya kanker), yang mungkin ketika informan di wawancara dapat menimbulkan dampak psikososial, apa yang harus dilakukan oleh peneliti untuk mengantisipasi isu etik pada kondisi tersebut, khususnya prinsip do no harm dan beneficence. Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumsalam wr wb. Terimakasih Teh Ikeu untuk pertanyaannya. Prinsip etik do not harm atau beneficence pada pengalaman traumatik bisa tetap dijaga bagi partisipan melalui informed consent, dan autonomy. Saat partisipan sudah menyetujui mengikuti penelitian dengan menandatangani informed consent, maka partisipan sudah siap untuk menjawab dan mengikuti prosedur penelitian. Namun, jika di tengah pengambilan data, partisipan menyerah dan tidak sanggup melanjutkan, maka peneliti harus menghargai keputusan partisipan dan tidak melanjutkan pengambilan data bersama partisipan tersebut. Terima kasih Teh Ikeu..

      Hapus
  6. Terima kasih atas pertanyaanya Bu dyah, ijin menjawab, Triangulasi hakikatnya adalah pendekatan multimetode atau usaha yang dapat dilakukan peneliti untuk mendapatkan kebenaran data atau informasi dari berbagai sudut pandang yang berbeda dengan mengurangi bias yang terjadi pada saat pengumpulan data, sebagai seorang peneliti kualitatif tentunya telah memiliki kualifikasi atau kualitas diri dalam melakukan pengambilan data namun jika menemukan kondisi data yang berbeda maka diperlukan pengecekan kebenaran melalui perspektif atau pandangan yang mengarah kepada kebenaran data.

    BalasHapus
  7. Assalamu'alaikum wr wb,
    Saya apresiasi pamaparan makalah kelompok 4 yang sangat bagus & lengkap. Berkaitan dengan mteri di atas, saya memiliki 2 pertanyaan sebagai berikut:

    1. Pada prinsip berbuat baik (beneficence) dan tidak merugikan (non-maleficence), mohon diberikan contoh hal seperti apakah yang berpotensi merugikan subjek/partisipan yang terlibat dalam penelitian kualitatif?

    2. Pada masa pandemi Covid-19, bagaimana cara kita meminimalkan penularannya, mengingat interaksi antara peneliti dan partisipan merupakan salah satu kunci kesuksesan pengambilan data penelitian kualitatif?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ijin menjawab mba romzati.. terkait dg beneficience atau berbuat baik... Pastinya pada tahap pengambilan data.. peneliti harus selalu berfikir positif terhadap partisipan dan harus selalu mempertimbangkan dampak penelitian qt terhadap partisipan.. terutama hal hal yg sifatnya traumatis atau pengalamn yg kurang mengenakkan.. selaa pengambila data.. oeneliti jg harus mempertimbangkan dampak dari apa yg qt lakuka untuk tetap mengedepankan agar proses pengambilan data tidak merugikan partisipan, contohnya.. tetep merahasian identitas dll...

      Sedangkan untuk masa pandemi covis 19.. selama pengambilan data.. protokol kesehatan tetap prioritas utama selama oengabilan data.. sehingga proses pengambilan data tdk akan berdampak penularan. dr maupun ke partisipan atau peneliti

      Hapus
    2. Terimakasih pertanyaan Mb Romdzati...
      Ijin menjawab.. Dalam prinsip beneficence terdapat dua aturan umum yaitu 1) jangan membahayakan atau merugikan partisipan; dan 2) maksimumkan manfaat dan minimumkan kerugian. Sehingga peneliti sebaiknya menilai risiko dan manfaat yang akan diperoleh partisipan dalam penelitian yang hasilnya harus dikomunikasikan kepada partisipan penelitian. Pengertian risiko disini adalah kemungkinan kerugian yang akan terjadi dan kejadian kecelakaan yang mungkin terjadi seperti kecelakaan dari sisi psikologis, fisik, hukum, sosial dan ekonomi. Misalnya pertanyaan yang ditanyakan kepada responden adalah suatu pertanyaan yang sensitif atau cenderung melecehkan (menurut responden). Hal tersebut perlu ditanyakan untuk menggali persepsi partisipan. Contoh yang lain wawancara dilakukan di tempat yang menyebabkan partisipan harus mengeluarkan sejumlah uang untuk menuju ke lokasi penelitian yang akomodasinya tidak difasilitasi oleh peneliti.
      Yang kedua... pengambilan data dapat dilakukan secara daring dengan masing-masing membuka kamera untuk memperlihatkan mimik wajah dan membuat catatan lapangan. meskipun dirasa kurang nyaman namun hal inilah yang dapat dilakukan apabila tidak dapat bertemu langsung. Dibandingkan dengan bertemu langsung namun memakai masker, face shields dan apron, cara online tadi lebih baik karena dapat melihat ekspresi wajah partisipan.
      Demikian Mb Romdzati.. Terimakasih..

      Hapus
    3. 1. Contoh hal seperti apakah yang berpotensi merugikan subjek/partisipan yang terlibat dalam penelitian kualitatif?

      Saya pernah melakukan penelitian kualitatif pada pasien dengan External Fixator. External fixator ini adalah metode mengatasi fraktur dengan memasukkan pin besi ke dalam jaringan kulit, jaringan lunak dan tulang yang dihubungkan dengan rigid external frame (alatnya lumayan berat, sekitar 1-3 kg).

      Nah penelitian tersebut memang dapat menyebabkan ketidaknyamanan secara fisik ataupun psikologis (ini saya komunikasikan juga ke partisipan). Ketidaknyaman fisik yang dirasakan partisipan biasanya berupa keluhan pegal akibat duduk dalam jangka waktu yang lama (±45 menit).

      Lalu apa yang saya lakukan ? Saya coba memberikan kebebasan kepada partisipan untuk melakukan relaksasi sejenak ataupun melakukan aktivitas tertentu (misalnya beribadah sejenak, minum, mengirimkan sms atau menelpon seseorang).

      Penelitian saya juga menimbulkan ketidaknyamanan psikologis, terutama ketika menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi, menampakkan kelemahan ataupun rasa takut partisipan. Soalnya partisipan akan bercerita mengapa bisa sampai terpasang alat external fixator (pada umumnya dikarenakan kecelakaan lalu lintas).

      Apa yang saya lakukan untuk meminimalisir ? Saya mencoba memberikan perhatian dan berusaha sensitif ketika mengajukan pertanyaan-pertanyaan penelitian dengan cara memilih kalimat yang tepat dalam menanyakan pertanyaan penelitian dan juga melihat ekspresi non verbal partisipan.

      Pada akhir wawancara, saya juga menanyakan apakah terdapat ketidaknyaman yang dirasakan partisipan ketika proses wawancara. Alhamdulillah pada saat itu semua partisipan mengatakan tidak ada masalah.

      2. Pada masa pandemi Covid-19, bagaimana cara kita meminimalkan penularannya ? Ada 2 cara yang mungkin untuk dilakukan :

      a. Kalau yang pernah saya lakukan adalah memakai media zoom untuk melakukan interaksi wawancara dengan partisipan. Zoom tersebut saya rekam dengan sebelumnya kontrak dengan partisipan.

      b. Bertemu langsung dengan partisipan dengan menerapkan protokol kesehatan, misalnya dengan memakai masker yang adekuat, mengatur jarak physical distancing ataupun mengusahakan ventilasi udara yang baik.

      Hapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  9. Paparan yang sangat menarik dari kelompok 4. Izinkan saya bertanya terkait dengan bagaimana cara untuk menghargai perspektif emic/partisipan dalam penelitian kualitatif? dan sejauh mana penerapan natural setting yang digunakan dalam pengumpulan data. Terima kasih

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Phenomenology

 LInk ppt :  Phenomenology     UNIVERSITAS INDONESIA         METODE PENELITIAN KUALITATIF : FENOMENOLOGI (untuk memenuhi penugasan mata kuliah Metode Penelitian Kualitatif )           Oleh: KELOMPOK 2   Arianti (NPM : 2106769931 ) Dewy Haryanti Parman (NPM : 2006566242) Elsa Naviati (NPM : 2006512492 ) Ikeu Nurhidayah (NPM : 2106683076 ) Indanah (NPM : 2106683082)         FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN PROGRAM STUDI S3 ILMU KEPERAWATAN FEBRUARI 2022 KATA PENGANTAR   Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas kehendak-Nya penulis dapat menyusun tugas kelompok “Metode Penelitian Kualitatif: Fenomenologi”. Penulis mengucapkan terimakasih kepada Koordinator Mata Kuliah Metode Penelitian Kualitatif, Prof. Dra. Setyowati, S.Kp...

KELP2 : PENGUMPULAN DATA OBSERVASI

      MK METODOLOGI KUALITATIF PENGUMPULAN DATA OBSERVASI DALAM METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF   Kelompok 2 : Imelda Liana Ritonga Jathu Dwi Wahyuni Nelly Hermala Dewi Suroso Umi Eliawati Rachmalia M.Khotibul Umam     Pembimbing : Dr. Imami Nur Rahmawati, SKp, MSc       PROGRAM STUDI DOKTORAL KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS INDONESIA T.A. 2021/2022   Kata Pengantar       Segala puji syukur kami panjatkan kepada Alloh SWT atas rahmat dan karunianya sehingga makalah dengan topik “Pengumpulan Data Observasi Dalam Metodologi Penelitian Kualitatif   “ dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Metodologi Kualitatif pada Program Doktoral Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.   Kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada : 1.       Prof. Dra Setyowati, M.Ap...