SAMPLING PADA PENELITIAN KUALITATIF
MAKALAH
(untuk memenuhi penugasan mata kuliah Metode Penelitian Kualitatif)
Disusun Oleh :
Kelompok 5
Ade Wulandari (2106683012)
Dyah Dwi Astuti (2106769963)
Ikeu Nurhidayah (2106683126)
Romdzati (2106683126)
Sri Intan Rahayuningsih (2106683132)
Tuti Seniwati (2006512561)
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI DOKTOR ILMU KEPERAWATAN
MARET 2022
1.1 Latar Belakang Penulisan
Pengambilan sampel (sampling) adalah metoda sistematis untuk pemilihan subjek yang akan diteliti. Pengambilan sampel menjadi bagian penting dari prosedur penelitian dan harus sesuai dengan topik dan pertanyaan penelitian. Sampling merupakan proses kompleks yang disesuaikan dengan pertanyaan penelitian dan pertimbangan teoritis, dan dipandu oleh phenomenon of interest. Berbeda dengan sampling pada penelitian kuantitatif yang cenderung bersifat probability sampling, dalam penelitian kualitatif cenderung bersifat non-probability sampling. Teknik sampling non-probabilitas bertujuan untuk mengidentifikasi hal-hal yang masih belum jelas guna menjawab permasalahan khusus yang sulit diungkapkan dan tidak mudah dianalisis secara statistik.
Untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi sesuai keinginan peneliti guna menjawab pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan, maka pemilihan subjek penelitian kualitatif harus memperhatikan sejumlah kriteria dalam melakukan proses sampling. Sampling dalam penelitian kualitatif harus memperhatikan sejumlah atribut yang menjelaskan relevansi antara sumber data dan informasi yang akan diperoleh. Disamping itu, proses sampling harus memiliki rumusan tujuan serta menentukan jenis metode sampling yang akan dilakukan.
Peneliti umumnya membuat keputusan tentang sampling pada awal tahapan penelitian. Strategi keputusan tentang sampling berfokus pada pengkajian tentang fenomena, serta bagaimana menjelaskan konteks tentang fenomena. Sampling yang digunakan sesuai dengan tujuan penelitian dan membantu memahami tentang masalah penelitian. Keputusan metode sampling dalam penelituan kualitatif ditentukan dengan memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi, serta parameter yang akan digunakan.
Metode sampling penelitian kualitatif juga berkaitan erat dengan apa yang menjadi data yang dianggap memberikan informasi yang ingin digali dalam penelitian. Kualitatif. Berhubungan dengan hal ini, kecukupan data dalam penelitian kualitatif dikenal dengan istilah saturasi. Makalah ini akan menguraikan dan memberikan penjelasan tentang sejumlah komponen yang terdapat dalam konsep sampling penelitian kualitatif.
Tujuan penulisan makalah terdiri dari tujuan umum dan khusus.
1.3.1 Tujuan Umum Penulisan
Secara umum penulisan makalah ini bertujuan untuk menguraikan dan menyajikan penjelasan tentang konsep sampling pada penelitian kualitatif.
1.3.2 Tujuan Khusus Penulisan
Adapun secara khusus, penulisan makalah bertujuan untuk:
a. Menjelaskan definisi sampling pada penelitian kualitatif
b. Menjelaskan atribut yang menjadi kriteria dalam sampling penelitian kualitatif
c. Menjelaskan berbagai jenis sampling dalam penelitian kualitatif
d. Menjelaskan cara menentukan keputusan pemilihan metode sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi subjek penelitian, parameter dalam penelitian kualitatif.
e. Menguraikan ukuran sampel dan kaitannya dengan saturasi data dalam penelitian kualitatif.
a. Pemahaman terhadap definisi sampling pada penelitian kualitatif
b. Pemahaman tentang atribut yang menjadi kriteria dalam sampling penelitian kualitatif
c. Pemahaman tentang berbagai jenis sampling dalam penelitian kualitatif
d. Pemahaman terhadap cara menentukan keputusan pemilihan metode sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi subjek penelitian, parameter dalam penelitian kualitatif.
e. Pemahaman mengenai ukuran sampel dan kaitannya dengan saturasi data dalam penelitian kualitatif.
BAB 2
SAMPLING PADA PENELITIAN KUALITATIF
Sampling adalah purposeful selection suatu elemen dari seluruh populasi untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi (Holloway & Wheeleer, 2010). Pertanyaan terkait sampling adalah siapa yang dipilih oleh peneliti dan bagaimana cara memilihnya. Qualitative inquiry memiliki perbedaan dalam pengambilan sampling dari penelitian kuantitatif, seperti probability sampling yang tidak cocok digunakan dalam pendekatan kualitatif (Holloway & Wheeleer, 2010). Pengambilan sampel menjadi bagian penting dari prosedur penelitian dan harus sesuai dengan topik dan pertanyaan penelitian.
Peneliti harus membedakan antara populasi target, study of population, dan kerangka sampling (sampling frame) (Procter & Allan, 2006). Target pupulasi adalah populasi yang dapat diakses yang harus memiliki pengalaman atau pengetahuan tertentu tentang fenomena yang sedang dieksplor. Study of population terdiri dari individu-individu yang dapat diakses peneliti dan memiliki pengalaman dan pengethuan yang sesuai, sedangkan sampling frame adalah populasi dimana sampel dipilih.
Peneliti tidak hanya menggambarkan strategi pengambilan sampel dan justifikasi pemilihan sampel, tapi juga harus menjelaskan bagaimana peneliti memperoleh akses pada partisipan dalam penelitian. Sampling merupakan proses kompleks yang disesuaikan dengan pertanyaan penelitian dan pertimbangan teoritis, dan dipandu oleh phenomenon of interest (Holloway & Wheeleer, 2010).
Key Features Kualitatif Sampling
Beberapa key feature sampling pada penelitian kualitatif menurut Curtis et al., (2000) adalah sebagai berikut:
Tabel 1: Key Features Sampling Pada Penelitian Kualitatif
|
No |
Key Features |
|
1 |
Metode pengambilan sample tidak didasarkan pada teori probabilitas seleksi statistik, tetapi berdasarkan kriteria pengambilan sampel seperti purposif atau teoritis. |
|
2 |
Sampel biasanya kecil, dipelajari secara intensif, dan setiap satu sampel biasanya menghasilkan sejumlah besar informasi; |
|
3 |
Sampel biasanya tidak sepenuhnya ditentukan sebelumnya (pre-specified), dan pemilihannya biasanya bersifat sequential (misalnya dengan rolling process, inter-leafed with coding dan analsis) |
|
4 |
Pemilihan sampel di-drive secara konseptual, baik oleh kerangka teoritis yang mendasari penelitian dan pertanyaan penelitian, atau oleh teori yang berkembang yang diturunkan secara induktif dari data sebagai hasil penelitian. |
|
5 |
Penelitian kualitatif harus reflektif dan eksplisit tentang alasan pemilihan kasus, karena ada implikasi etis dan teoritis yang timbul dari pilihan yang dibuat, serta harus jelas alasan memasukkan atau meng-exclude sampel. |
|
6 |
Sampel kualitatif dirancang untuk memungkinkan generalisasi analitik (diterapkan pada teori yang lebih luas tentang dasar bagaimana kasus yang dipilih 'sesuai' dengan konstruksi umum), tetapi bukan generalisasi statistik (diterapkan untuk populasi yang lebih luas atas dasar perwakilan sampel statistik). Miles dan Huberman (1994) berpendapat bahwa pengambilan sampel kualitatif dapat memberikan kesempatan untuk memilih dan memeriksa pengamatan terhadap proses general yang merupakan kunci pemahaman kita tentang teori baru atau yang sudah ada tentang fenomena tersebut sedang dipelajari. Implikasinya adalah bahwa teori akan mendorong pemilihan kasus-kasus ini, dan juga bahwa pemeriksaan yang cermat dari kasus dapat menyebabkan elaborasi atau reformulasi teori. |
Tabel 2: Enam Kriteria Daftar Periksa Strategi Sampling
menurut Miles, Huberman dan Saldana (2014)
|
No |
Kriteria |
|
1 |
Strategi pengambilan sampel harus relevan dengan kerangka konseptual dan pertanyaan penelitian yang ditetapkan. Hal ini menyiratkan pertimbangan apakah pengambilan sampel dimaksudkan untuk menyediakan kasus dalam kategori yang berkaitan dengan kerangka konseptual yang sudah ada sebelumnya, atau sejauhmana pilihan kasus dapat mempengaruhi ruang lingkup untuk pengembangan teori secara induktif. |
|
2 |
Sampel harus menghasilkan informasi yang kaya tentang fenomena yang sedang diselidiki. Apakah phenomena of interest muncul pada observasi. Sangat penting untuk dikaji apakah sampel dapat memberikan “thick description” dari fenomena yang sedang diteliti. |
|
3 |
Sampel sebaiknya dapat meningkatkan “generalisasi” dari temuan. Pada penelitian kualitatif, generalisasi yang dimaksud lebih kepada generalisasi analitik, bukan generalisasi secara statistik. |
|
4 |
Sampel harus menghasilkan deskripsi/penjelasan yang dapat dipercaya (dalam arti sesuai dengan kehidupan nyata). Salah satu aspek validitas penelitian kualitatif berkaitan dengan apakah sampel memberikan pernyataan yang benar-benar meyakinkan dan sesuai dengan apa yang diamati. Kriteria ini sesuai dengan “reliabilitas” dari sumber informasi, dalam arti lengkap-tidaknya, dan apakah sumber tersebut memiliki bias penting yang akan mempengaruhi eksplanasi yang diberikan. |
|
5 |
Apakah strategi pengambilan sampel etis? Miles, Huberman dan Saldana (2014)) menyarankan bahwa informed consent harus dilaksanakan dalam seleksi sampel. Hal yang perlu diinformasikan antara lain apakah ada manfaat atau risiko yang terkait dengan pemilihan dan partisipasi dalam penelitian, dan juga the ethical nature of dari hubungan antara peneliti dan informan. Hal lain yang harus dipertimbangkan adalah isu etik terkait dengan ekslusi informan. |
|
6 |
Apakah rencana pengambilan sampel feasible (layak)? Miles, Huberman dan Saldana (2014)mendorong peneliti untuk mempertimbangkan kelayakan dalam hal biaya, sumber daya keuangan, waktu, masalah praktis aksesibilitas dan apakah strategi pengambilan sampel kompatibel dengan work style peneliti. Miles, Huberman dan Saldana (2014)juga menekankan bahwa kompetensi peneliti juga penting untuk feasibility, misalnya dalam penguasaan bahasa, keterampilan komunikasi, kemampuan untuk menjalin relasi dengan informan, pengalaman peneliti, dan kapasitas peneliti untuk mampu melakukan koping terhadap circumstances selama pengambilan data. |
2.2 Purposeful (Purposive) Sampling
Holloway dan Wheeleer (2010) menjelaskan strategi pengambilan sampel penelitian kualitatif dipandu oleh prinsip etik dan kesempatan untuk mendapatkan akses pada individu/kelompok yang dapat diamati dan dilakukan wawancara mendalam, yang memungkinkan untuk mendapat data yang kaya. Seleksi partisipan (setting, atau waktu) berdasarkan criterion-based. Unit sampel dipilih berdasarkan tujuan tertentu yang diputuskan peneliti, sehingga penelitian kualitatif menggunakan istilah 'purposive' atau 'purposeful' sampling. Misalnya, peneliti memilih sampel dari membership suatu perkumpulan penyakit, berdasarkan pengalaman yang dimiliki partisipan dan jenis perawatan yang diterima.
Holloway dan Wheeleer (2010) mengatakan pada awal penelitian, peneliti harus mengajukan dua pertanyaan; what to sample? dan how to sample?. Informan yang tepat dapat dipilih oleh peneliti, atau terkadang peneliti harus mengiklankan atau meminta informan yang memiliki wawasan tentang situasi tertentu atau ahli dalam bidang pengetahuan tertentu. Partisipan sukarela yang dipilih oleh peneliti biasanya merupakan partisipan yang lebih artikulatif karena peneliti lebih mudah berkomunikasi dari partisipan tersebut dan memperoleh data yang kaya, namun demikian hal ini dapat menyebabkan pengabaian pada individu tertentu yang powerless atau inarticulate; padahal suara mereka mungkin sangat penting namun sering terpinggirkan.
Individu dijadikan informan untuk informasi yang dapat mereka berikan tentang fenomena, baik itu suatu kondisi, seperti penyakit, pengobatan (misalnya obat tertentu, intervensi, konseling), jenis perawatan, pengambilan keputusan, dll. Informan bisa merupakan perawat yang merawat orang yang menjalani perawatan, pasien yang menjalani operasi, atau mahasiswa yang diwawancarai tentang pengalaman klinis mereka. Identifikasi populasi tertentu memberikan batasan antara mereka yang termasuk dalam penelitian dan mereka yang tinggal di luarnya (kriteria inklusi dan eksklusi) (Holloway & Wheeleer, 2010). Sampel dipilih atas dasar pengetahuan pribadi orang tersebut tentang fenomena yang sedang dipelajari. Informan dengan pengetahuan atau pengalaman khusus mungkin terdiri dari newcomers, individu yang mengalami perubahan status, atau orang yang telah mengalami kondisi tertentu dalam jangka waktu lama (Holloway & Wheeleer, 2010). Selain itu peneliti perlu untuk mengklarifikasi rasional dari kriteria inklusi dan eklusi. Holloway dan Wheeleer, (2010) memberikan contoh penggunaan purposif sampling sebagai berikut:
2.3 Jenis Sampling
Holloway dan Wheeleer (2010) mengatakan terdapat beberapa jenis sampling, yang dirangkum sebagai berikut:
Tabel 3: Jenis Sampling dalam Penelitian Kualitatif
(Holloway & Wheeleer, 2010)
No
|
Jenis Sampling
|
1
|
Homogenous sampling
|
2
|
Heterogenous sampling
|
3
|
Total population sampling
|
4
|
Chain refferal sampling (snowball sampling)
|
5
|
Convenience atau opportunistic sampling
|
6
|
Maximum variation sampling
|
7
|
Theoretical sampling
|
2.4 Homogenous sampling
Pada jenis sampling ini, melibatkan individu-individu yang memiliki kesamaan dalam subculture atau karakteristik (Holloway & Wheeleer, 2010). Perawat sering menggunakan unit sampel homogen ketika ingin mengamati atau mewawancarai kelompok tertentu, misalnya perawat spesialis. Bidan mungkin ingin meneliti perspektif bidan komunitas tentang peran mereka di dalam komunitas. Dalam contoh ini, kelompok homogen sedang dipelajari. Sampel dapat menjadi homogen terhadap variabel tertentu saja – misalnya, sesuai pekerjaan tertentu, lama pengalaman, jenis pengalaman, usia atau jenis kelamin (Holloway & Wheeleer, 2010). Variabel penting akan ditetapkan sebelum pengambilan sampel dimulai. Holloway dan Wheeleer, (2010) memberikan contoh penggunaan sampling homogen sebagai berikut:
2.5 Heterogenous sampling
Sampel heterogen terdiri dari individu atau kelompok individu yang berbeda satu sama lain dalam aspek utama. Misalnya, perawat mungkin ingin mengeksplorasi persepsi perawat, pekerja sosial dan dokter yang merawat pasien dengan HIV. Ketiga kelompok tersebut membentuk sampel yang heterogen. Sampling heterogen juga disebut sampling variasi maksimum (Patton, 2002) karena melibatkan pencarian untuk individu dengan pengalaman yang sangat berbeda dan untuk variasi dalam setting tertentu.
Sampel mungkin terdiri dari orang-orang dari populasi – seperti anggota kelompok caregiver lokal, ruangan perawatan, sebuah komunitas pasien, dan lain-lain (Holloway & Wheeleer, 2010). Beberapa sampling mungkin berdasarkan penemuan awal dari sebuah grup atau bisa juga tidak dapat ditentukan sebelum penelitian (Holloway & Wheeleer, 2010). Misalnya, perawat maternitas dapat mengambil sampel wanita yang baru saja melahirkan anak pertama, baik memilih primipara yang lebih tua, atau yang lebih muda, karena mungkin pada kedua usia tersebut memiliki ide yang berbeda tentang persalinan. Peneliti juga mungkin mengambil sampel berbeda dari pasangan menikah atau pasangan yang hidup bersama. Sampel juga dapat berupa kelompok fokus, misalnya self-help group, atau grup yang memiliki kesamaan kondisi dan pengalaman dengan grup tersebut. Berikut ini disajikan contoh aplikasi pada jenis sampling ini, menurut Holloway dan Wheeleer, (2010):
2.6 Total population sampling
Sampel disebut sampel populasi total (total population sample) ketika partisipan yang terseleksi seluruhnya berasal dari kelompok tertentu; sampel ini jarang digunakan dalam penelitian kualitatif (Holloway & Wheeleer, 2010). Sebagai contoh seorang peneliti ingin mewawancara semua perawat yang memiliki keahlian, pengetahuan dan skill spesifik konseling di suatu rumah sakit, peneliti mungkin akan mewawancara semua perawat dengan keahlian tersebut, karena mungkin hanya sedikit perawat yang memiliki keahlian khusus tersebut, sehingga peneliti mengambil sampel secara total sampling (Holloway & Wheeleer, 2010). Kondisi lain aplikasi jenis sampling ini adalah peneliti yang ingin menggali lebih dalam tentang penyakit atau sindrom tertentu yang jumlah penderita nya sangat sedikit, sehingga peneliti mungkin akan mewawancarai seluruh individu yang mengalami penyakit/sindrom tersebut. Lebih lanjut, Holloway dan Wheeleer (2010) memberikan gambaran kondisi penerapan sampling ini, misalnya seluruh bidan di suatu unit kebidanan akan diobservasi untuk melihat teknik khusus atau layanan yang diberikan pada unit tersebut.
2.7 Chain refferal sampling (snowball sampling)
Variasi dari purposive sampling adalah chain refferal sampling (rujukan berantai) atau teknik sampel bola salju (snowball sampling) (istilah ini pertama kali diciptakan oleh Biernacki dan Waldorf pada tahun 1981) (Holloway & Wheeleer, 2010). Seorang informan yang dipilih sebelumnya, diminta untuk mengidentifikasi partisipan potensial lainya karena informan tersebut memiliki pengetahuan tentang topik, area atau fenomena tertentu (Holloway & Wheeleer, 2010). Sehingga informan tersebut akan mencalonkan informan lainnya untuk berpartisipasi dalam penelitian.
Peneliti dapat menggunakan pengambilan sampel bola salju pada kondisi dimana peneliti tidak dapat mengidentifikasi informan, atau informan tidak mudah untuk diakses, atau ketika anonimitas sangat diperlukan, misalnya pada studi tentang kecanduan narkoba, penggunaan alkohol, atau perubahan orientasi seksual (Holloway & Wheeleer, 2010). Penrod et al., (2003) menyarankan bahwa pengambilan sampel rujukan berantai berguna pada populasi rentan (vulnerable) yang tidak mudah diakses. Kelompok ini termasuk kelompok yang diberi label negatif oleh masyarakat (misalnya, kelompok yang menderita penyakit menular seksual), atau pada kondisi dimana peneliti menggali topik diskusi yang sensitif (seperti perilaku seksual) atau individu uang takut diekspos atau dikriminalisasi (misal topik tentang penyelewengan kekuasaan negara, mafia tanah, dan lain-lain). Berikut ini contoh aplikasi snowballing sampling menurut Holloway dan Wheeleer (2010).
2.8 Convenience atau Opportunistic Sampling
Pada istilah sampling ini, peneliti menggunakan kesempatan untuk bertanya pada orang yang mungkin berguna untuk penelitian, dan mudah untuk diakses (Holloway & Wheeleer, 2010). Pengambilan sampel bersifat oportunistik dan diatur sesuai kenyamanan peneliti. Peneliti mungkin mengadaptasi strategi sampling ini ketika perekrutan sampel sulit. Pengambilan sampel seperti ini diperbolehkan, meskipun bukan merupakan cara pengambilan sampel yang terbaik (Holloway & Wheeleer, 2010). Peneliti dapat memilih individu yang memiliki ide atau pengalaman yang akan membantu tujuan penelitian; kadang-kadang variasi dalam sampel tidak memiliki pengaruh spesifik pada fenomena yang dieksplor, sehingga pada kondisi ini pemilihan sampel berdasarkan kenyamanan dapat dipilih (Holloway & Wheeleer, 2010). Berikut ini contoh convenience sampling menurut Holloway dan Wheeleer (2010):
2.9 Maximum variation sampling
Sampling variasi maksimum atau maximum variation sampling memerlukan pemilihan sampel purposive yang bervariasi dari berbagai variasi individu dan/atau setting atau area of interest peneliti (Holloway & Wheeleer, 2010). Contohnya pada kondisi yang memerlukan informasi dari jenis kelamin yang berbeda, tua dan muda, berbeda kebangsaan, berbeda agama, atau berbeda suku budaya. Peneliti bermaksud untuk mengakses berbagai perspektif dari banyak orang yang berbeda. Sehingga sampel harus relatif besar. Sampling jenis ini tidak sering digunakan dalam penelitian kualitatif, yang pada umumnya memiliki tujuan yang lebih spesifik (Holloway & Wheeleer, 2010).
2.10 Theoretical sampling
Glaser dan Strauss, (1967) menganjurkan pengambilan sampel teoretis dalam proses mengumpulkan data. Pengambilan sampel teoretis berkembang saat penelitian berlangsung, dan tidak dapat direncanakan sebelumnya. Peneliti memilih sampel berdasarkan konsep dan masalah teoritis yang muncul selama penelitian. Ide teoritis mengontrol pengumpulan data; oleh karena itu peneliti harus memiliki justifikasi penyertaan unit sampling tertentu.
Pada titik saturasi data, Ketika tidak ada ide baru yang muncul yang bernilai bagi teori yang sedang dikembangkan, pengambilan sampel dapat dihentikan. Coyne (1997) membahas pengambilan sampel kualitatif secara mendalam dan membedakannya antara sampling purposive dan theoretical sampling. Coyne (1997) percaya bahwa sampling teoritis dapat sisebut ‘pengamban purposeful sampel yang didorong oleh analisis’ (analysis driven purposeful sampling). Sandelowski (1995) juga menyatakan bahwa semua pengambilan sampel dalam penelitian kualitatif merupakan purposeful sampling, dan sampling teoritis hanyalah variasi dari purposive sampling.
2.11 Jenis Sampling lainnya
Holloway dan Wheeleer (2010) mengidentifikasi variasi lain dari purposive sampling atau criterion-based sampling sebagai berikut:
Tabel 4: Variasi lain dari Purposive sampling atau Criterion-based Sampling (Holloway & Wheeleer, 2010)
No
|
Metode Sampling
|
Penjelasan
|
1
|
Extreme case selection
|
Dalam metode ini, peneliti mengidentifikasi karakteristik tertentu untuk setting atau populasi. Ekstrim dari karakteristik tertentu, dicari dan disusun dalam suatu kontinuum. Kasus-kasus yang termasuk pada kedua karakteristik ekstrim akan diikutkan. Misalnya peneliti menggali tentang perawat yang bekerja di ruang perawatan berskala besar, dan ruang perawatan terbatas/kecil. Kondisi tersebut kemudian dibandingkan dengan ruang perawatan yang umum di suatu rumah sakit tertentu.
|
2
|
Typical case selection
|
Pada pemilihan menurut typical case selection (pemilihan kasus yang khas), peneliti membuat sebuah profil untuk karakteristik kasus umum. Peneliti mungkin meng-eklusikan sampel yang sangat muda atau sangat tua, pasien yang hampir sehat dan yang rentan dari populasi umum. Populasi ini akan menjadi orang yang khas untuk penyelidikan fenomena tertentu.
|
3
|
Unique case selection
|
Ketika memilih kasus yang unik, peneliti mempelajari kasus yang berbeda dari yang lain yang dibedakan dengan satu karakteristik atau dimensi tertentu, mungkin berasal dari komunitas yang tidak biasa seperti sekte atau kelompok etnis. Jensi sampel ini terdiri dari kasus-kasus yang tidak biasa, unik, atau atipikal.
|
4
|
Deviant case selection
|
Seleksi kasus menyimpang (deviant) mirip dengan pemilihan kasus ekstrim. Namun, individu yang di-include-kan hanya mereka yang berfikir dengan cara yang sangat berbeda dari orang lain yang ide-idenya telah diteliti sebelumnya, atau mereka yang memiliki pengalaman yang berbeda dari oranglain meskipun memiliki kondisi yang sama, atau pengobatan dan perawatan yang sama.
|
2.12 Sampling Decision
Peneliti umumnya membuat keputusan tentang sampling pada awal tahapan penelitian. Pendekatan penelitian kualitatif berbeda dengan pendekatan penelitian kuantitatif. Pada penelitian kuantitatif peneliti umumnya menggunakan random atau berdasarkan probabilitas. Pendekatan penelitian kualitatif berbeda, dengan mempertimbangkan orang (whom to sample), tempat (where to sample), dan waktu atau konteks (what to sample) sesuai dengan tujuan spesifik dari penelitian (Holloway & Galvin, 2016).
Strategi keputusan tentang sampling berfokus pada pengkajian tentang fenomena, serta bagaimana menjelaskan konteks tentang fenomena. Sampling yang digunakan sesuai dengan tujuan penelitian dan membantu memahami tentang masalah penelitian. Sampling yang digunakan menyediakan informasi dan data yang berkualitas. Beberapa jenis penelitian melakukan sampling setelah fokus penelitian ditemukan. Pada grounded theory dan ethnography sampling dapat ditambahkan kemudian tergantung pada konsep yang dirumuskan (Holloway & Galvin, 2016).
Peneliti kualitatif perlu mempertimbangkan secara rasional besar sampel, rentang (minimum dan maksimum), serta variasi dalam penelitian. Ketika peneliti membuat pertanyaan “Siapa”, maka peneliti juga mempertimbangkan waktu, tempat, dan lokasi. Sampling merupakan bagian yang penting dalam penelitian. Kerangka populasi penelitian dengan pengalaman atau pengetahuan yang mampu menjelaskan fenomena. Peneliti kualitatif tidak hanya menjelaskan strategi pemilihan sampel, tetapi juga menjelaskan cara memperoleh sampel penelitian (Holloway & Galvin, 2016).
2.13 Inclusion And Exclusion Criteria
Kriteria inklusi dan eksklusi dalam penelitian kualitatif tergantung pada tujuan dari penelitian yang telah ditetapkan oleh peneliti. Contoh penelitian tentang kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan, peneliti mungkin hanya mengikutkan partisipan yang mengeluhkan pelayanan keperawatan pada aspek tertentu. Penelitian mungkin akan mengeksklusikan partisipan yang tidak bisa berbahasa Inggris walaupun partisipan tersebut termasuk dalam populasi target (Holloway & Galvin, 2016).
2.14 Sampling Parameters
Paramater sampling pada penelitian kualitatif tidak hanya berfokus pada orang tetapi juga waktu, tempat, atau konteks penelitian. Beberapa ahli menyarankan untuk menggunakan ‘naturalistic’ sampling dengan mempertimbangkan orang, konteks, dan waktu. Pada penelitian kualitatif ethnographic subkultur tertentu akan berbeda tempat dan situasi. Kriteria waktu, tempat, dan konteks disesuaikan dengan tujuan dari penelitian. Besar atau kecilnya sampel tergantung pada jenis penelitian. Tempat penelitian apakah di rumah sakit atau masyarakat disesuaikan dengan konteks dalam penelitian (Holloway & Galvin, 2016). Berikut merupakan kritik penelitian yang dapat digunakan pada penelitian dalam parameter sampling:
- Apakah tempat atau konteks dideskripsikan dengan jelas? Apakah setting sesuai dengan tujuan penelitian?
- Apakah pemilihan sampel dideskripsikan dengan jelas? Apakah jenis strategi sampel yang digunakan?
- Apakah kriteria inklusi dideskripsikan secara spesifik? Apakah strategi rekrutmen partisipan memberikan banyak informasi?
- Apakah informasi yang diberikan sesuai dengan yang dibutuhkan dalam penelitian-dapat dilaksanakan-pendekatan sampling tepat digunakan? Apakah dimensi fenomena dapat diwakili?
- Apakah besar sampel sesuai dan tepat pada penelitian kualitatif? Apakah indikasi saturasi telah tepat dilaksanakan?
- Apakah temuan sudah secara komprehensif ditemukan, tidak ada celah? Apakah sampel berkontribusi pada generalisasi analitik?
- Apakah kunci dari karakteristik sampel dijelaskan? Apakah konteks partisipan dideskripsikan melalui pengkajian transferabiliti?
2.15 Generalisasi Sampel
Generalisasi dalam penelitian kualitatif merupakan issue yang masih diperdebatkan oleh ahli kualitatif. Mayoritas ahli penelitian kualitatif berpendapat generalisasi dilakukan berdasarkan makna dan relevansi konteks partisipan penelitian. Dua model generalisasi yang relevan dengan penelitian kualitatif antara lain analytic generalization dan transferability. Analytic generalization yaitu generalisasi berdasarkan konsep dan teori. Contohnya adalah generalisasi berdasarkan identifikasi pengalaman atau kejadian yang mendukung konsep dari fenomena. Transferability melibatkan keputusan tentang temuan pada setting atau kelompok orang yang berbeda. Transferability melibatkan peneliti dan pengguna dari hasil penelitian kualitatif (Holloway & Galvin, 2016).
2.16 Sampling Size
Sampling size atau ukuran sampel harus dipastikan dalam penelitian kualitatif seperti dalam penelitian kuantitatif, tetapi tidak dengan cara yang sama. Konsep yang berlaku untuk ukuran sampel dalam penelitian kualitatif adalah saturasi. Konsep lain mengistilahkan saturasi ini dengan sebutan information power (kekuatan informasi) sebagai panduan dalam menentukan kecukupan sampel penelitian kualitatif. Kekuatan informasi menunjukkan bahwa semakin banyak informasi yang dimiliki sampel, relevan dengan penelitian yang sedang dilakukan, maka jumlah partisipan yang diperlukan juga semakin sedikit (Malterut, Siersma, & Guassora, 2016). Ukuran sampel dengan kecukupan kekuatan informasi tergantung pada hal-hal berikut: 1) tujuan penelitian, 2) kekhususan sampel, 3) penggunaan teori yang mapan, 4) kualitas dialog, dan 5) analisis strategi
Desain dari penelitian kualitatif juga menentukan pertimbangan sampling size. Berikut ini rangkuman sample size yang dikemukakan oleh Creswell (2018).
Tabel 5. Daftar gambaran kasar jumlah sampel
Desain penelitian
|
Gambaran kasar jumlah sampel
|
Narrative
|
1 atau 2
|
Phenomenology
|
3-10
|
Grounded theory
|
20-30
|
2.17 Saturasi
Saturasi merupakan pedoman umum dalam menilai kecukupan purposive sample penelitian kualitatif (Hennink & Kaiser, 2021). Creswell (2018) menjelaskan saturasi terjadi ketika dalam pengumpulan data kualitatif, peneliti berhenti mengumpulkan data karena data baru tidak lagi memunculkan wawasan baru atau mengungkapkan sifat baru. Oleh karena itu, seorang peneliti melihat hal ini sebagai titik di mana tidak ada lagi data yang perlu dikumpulkan. Ketika suatu teori sudah dinilai kuat, tanpa kesenjangan atau fenomena yang tidak dapat dijelaskan, maka kejenuhan telah tercapai dan teori yang dihasilkan menjadi lebih mudah dibangun (Given, 2008).
Jika peneliti tidak mencapai saturasi data, setiap teori yang dihasilkan mungkin tidak seimbang, tidak lengkap, dan pada dasarnya tidak dapat dipercaya. Sebagai akibat, proses pengumpulan data dianggap selesai hanya jika kejenuhan telah tercapai (Given, 2008).
Di sisi lain, mencapai kejenuhan dianggap agak relatif karena jika peneliti terus menerus mengumpulkan data baru dan mencari informasi baru, akhirnya sesuatu yang baru dan relevan dapat muncul. Meskipun demikian, para peneliti perlu memutuskan kapan pengumpulan data baru akan menghasilkan hasil yang semakin berkurang, dengan rincian baru yang akan ditambahkan pada kemunculan teori
Sebagian peneliti mempertimbangkan ukuran sampel 15 sampai 20 yang sesuai untuk saturasi tema selama analisis, namun ukuran sampel akan bervariasi tergantung pada konteks dan konten yang diteliti. Para peneliti juga mencatat bahwa kejenuhan tidak dapat dicapai melalui penghitungan frekuensi tetapi sebaliknya harus dicapai melalui pemeriksaan variasi dalam data dan bagaimana variasi ini dapat dijelaskan dalam konteks teori yang muncul. Oleh karena itu, penting pada tahap awal analisis untuk memepertimbangkan setiap bagian data setara karena ini memungkinkan peneliti untuk menemukan, memahami, dan menjelaskan variasi dalam sampel (Given, 2008).
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sampling memiliki kedudukan yang penting di dalam penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif memerlukan sampling yang penentuannya berbeda dengan penelitian kuantitatif, mulai dari tujuan sampling sampai dengan jenis dan keputusan pemilihannya.
3.2 Saran
REFERENSI
Coyne, I. T. (1997). Sampling in qualitative research: purposeful and theoretical sampling: merging or clear boundaries? Journal of Advanced Nursing, 26(1), 623–630.
Creswell, JW., & Creswell, JD. (2018). Research design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (5th ed). Sage Publications.
Curtis, S., Gesler, W., Smith, G., & Washburn, S. (2000). Approaches to sampling and case selection in qualitative research: Examples in the geography of health. Social Science and Medicine, 50(7–8), 1001–1014. https://doi.org/10.1016/S0277-9536(99)00350-0.
Given, LM. (2008). The Sage Encyclopedia of qualitative research methods. Sage Publications.
Glaser, B., & Strauss, A. (1967). The Discovery of Grounded Theory. (Aldine (ed.)).
Hennink, M., & Kaise, BN. (2022). Sample sizes for saturation in qualitative research: A systematic review of empirical tests. Social Science & Medicine, 292.
Holloway, I., & Wheeleer, S. (2010). Qualitative Research in Nursing and Healthcare. Blackwell Publishing Ltd.
Holloway, I. & Galvin, K. (2016). Qualitative Research in Nursing and Healthcare, John Wiley & Sons.
Kirsti, M., Siersma, VD., & Guassora, AD. (2016). Sample size in qualitative interview studies: Guided by information power. Qualitative Health Researchs, 26(13), 1753-1760.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldana, J. (2014). Qualitative Data Analysis: A method sourcebook (Third Edit). Sage Publications Inc.
Patton, M. (2002). Qualitative Evaluation and Research Methods (Third Edit). Sage Publications Inc.
Penrod, J., Preston, D. ., Cain, R. E., & Starks, M. T. (2003). The discussion of chain referral as a method of sampling hard-to-reach populations. Journal of Transcultural Nursing, 14(2), 100–107.
Procter, S., & Allan, T. (2006). Sampling. In The Research Process in Nursing (Fifth Edit). Blackwell Publishing Ltd.
Sandelowski, M. (1995). Focus on qualitative methods: sample size in qualitative research. Research in Nursing and Health, 18(1), 179–183.
selamat kepada kelompok 5.. saya pagi-pagi udah mau tanya nih.. saya tertarik mengenai pembahasan tentang sampling generalis ya.. bagaimana proses pemilihan sampling agar terbilang generalis, apakah itu diputuskan oleh peneliti sendiri sesuai question research atau diputuskan di dalam tim agar menjaga norma-norma etik dalam pengambilan sample. terima kasih...hatur nuhun...
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusTerima kasih untuk pertanyaannya mbak evin.
HapusMohon ijin menjawab:
Generalisasi sampel pada penelitian kualitatif yang umum digunakan adalah:
1) Analytic generalization yaitu generalisasi berdasarkan konsep dan teori. Contohnya adalah generalisasi berdasarkan identifikasi pengalaman atau kejadian yang mendukung konsep dari fenomena.
2) Transferability melibatkan keputusan tentang temuan pada setting atau kelompok orang yang berbeda. Transferability melibatkan peneliti dan pengguna dari hasil penelitian kualitatif. Transferabiliti tidak ditentukan oleh peneliti, tetapi pembaca laporan hasil penelitian. Jika pembaca mempunyai pemahaman yang jelas tentang laporan penelitian, maka penelitian tersebut mempunyai transferabilitas penelitian yang tinggi.
Prosedur pengambilan sampel penelitian kualitatif tidak berdasarkan teori probabilitas atau random seperti pada penelitian kuantitatif. Penelitian kualitatif berdasarkan theoritical sampling atau purposive sampling. Peneliti kualitatif perlu menitikberatkan pada unit-unit teoritis, pemahaman konsep, dan karakteristik sampel berdasarkan topik atau tujuan penelitian. Acuan generalisasi pada penelitian kualitatif diarahkan pada kesesuaian konteks penelitian.
Sampling decision atau keputusan tentang sampling dapat ditentukan oleh peneliti atau tim peneliti tentunya dengan menerapkan etik penelitian. Sampling decision dalam penelitian kualitatif dengan mempertimbangkan:
1) Karakteristik orang (whom to sample), tempat (where to sample), dan waktu atau konteks (what to sample) sesuai dengan tujuan spesifik dari penelitian
2) berfokus pada pengkajian tentang fenomena, serta bagaimana menjelaskan konteks tentang fenomena.
3) Sampling yang digunakan sesuai dengan tujuan penelitian dan membantu memahami tentang masalah penelitian.
4) Sampling yang digunakan menyediakan informasi dan data yang berkualitas.
Sumber:
Holloway, I. & Galvin, K. (2016). Qualitative Research in Nursing and Healthcare, John Wiley & Sons.
Selamat pagi untuk kelompok 5, ijin bertanya tentang sampling size yang dibahas perhitungan sampel kasar menurut Creswell ( 2015), apakah ada dasar perhitungan kasar yang lain selain diungkapkan Creswell? Jika ada berdasarkan apa dan berapa perkiraan sampling sizenya? Tolong dijelaskan. Terimakasih sebelumnya
BalasHapusTerima kasih atas pertanyaan mba Ratna. Saya coba menjawab, terkait gambaran kasar jumlah sample pada penelitian kualitatif. Jumlah sample yang ada di dalam tabel tersebut bukan berdasarkan hasil penghitungan menggunakan rumus tertentu seperti dalam penelitian kuantitatif, melainkan berdasarkan hasil review dari penelitian-penelitian kualitatif yang telah ada sebelumnya.
HapusPada prinsipnya, kecukupan sampling size penelitian kualitatif menggunakan konsep saturasi, ketika tidak muncul informasi atau wawasan baru, maka pencarian data melalui subjek penelitian dapat dihentikan.
Demikian jawaban dari kami, mba Ratna.
Ijin menambahkan jawaban dari mbak romdzati
HapusPenentuan ukuran sampel kualitatif menurut Morse (2015) yaitu
1. Wawancara tidak terstruktur = Interpretatif, analisis tematik = data dalam jumlah besar per peserta = sampel kecil
2. Wawancara semi-terstruktur = Analisis kategoris = jumlah data terbatas per peserta, sampel lebih besar.
Semakin sensitif dan berpengalaman peneliti secara teoritis, semakin kecil ukuran sampelnya. Strategi analitis yang digunakan dalam penelitian harus "sesuai" dengan metode yang digunakan.
Sumber : Morse (2015). Analytic Strategies and Sample Size. Qualitative Health Research 25(10). https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/1049732315602867?url_ver=Z39.88-2003&rfr_id=ori:rid:crossref.org&rfr_dat=cr_pub%20%200pubmed
Penentuan sample size menurut Malterud (2016) :
Semakin besar kekuatan informasi (information power) yang dimiliki sampel, semakin sedikit jumlah peserta yang dibutuhkan, dan sebaliknya.
Sumber : Malterud (2016). Sample Size in Qualitative Interview
Studies: Guided by Information Power. https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/1049732315617444?url_ver=Z39.88-2003&rfr_id=ori:rid:crossref.org&rfr_dat=cr_pub%20%200pubmed
Ukuran sampel menurut Hennink et all (2019) bahwa perhitungan sampelnya berdasarkan parameter saturasi untuk memperkirakan ukuran sampel yang efektif.
Sumber : Hennink et all (2019). What Influences Saturation? Estimating Sample Sizes in Focus Group Research. https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/1049732318821692?journalCode=qhra
Terimakasih jawabannya Mbak Romdzati dan Mbak Tuti, jadi kalau yang menentukan perhitungan kasar atau prediksi jumlah sampel hanya dari Creswell ya?
HapusBenar, mba Ratna...
HapusJadi, informasi di atas berdasarkan kesimpulan yang dilakukan oleh penulis (Creswell) dari hasil review artikel2 penelitian kualitatif.
Selamat pagi, mohon izin bertanya bagaimana alur pemilihan partisipan dalam penelitian kualitatif? Untuk masing2 metode seperti snowball dan purposive? Apakah kita perlu menggunakan key person untuk memastikan hasil wawancara? Mohon pencerahan, terima kasih
BalasHapusTerimakasih atas pertanyaan dan atensi nya kepada kelompok 5 Bu Eka. Ijin menjawab pertanyaan Bu Eka. Menurut Holloway dan Wheeler (2010), secara umum, pengambilan sampling dalam penelitian kualitatif dilakukan secara purposeful atau purposive sampling. Jadi pemilihan sampling berdasarkan tujuan penelitian, yang kemudian ditetapkan sesuai criterion-based nya atau berdasarkan kriteria yang sesuai tujuan penelitian, artinya partisipan yang dipilih memiliki pengetahuan/pengalaman terkait fenomena yang diamati sehingga dapat memberikan informasi yang kaya. Adapun strategi/teknik pengambilan/rekruitmen purposive sampling tersebut bervariasi, salah satunya dengan teknik snowball sampling/chain refferal sampling. Teknik snowball sampling sendiri dilakukan pada kondisi informan merupakan vulnerable population yang tidak mudah diakses, misalnya populasi yang diberi label negatif oleh masyarakat (misalnya individu dengan penyakit menular seksual), atau peneliti menggali topik yang sensitif (misalnya tentang orientasi seksual), atau individu takut diekspos/dikriminalisasi (misalnya pada topik tentang penyelewengan kekuasaan dst), sehingga peneliti mungkin memiliki keterbatasan untuk mendapatkan informan. Pada kondisi ini, peneliti dapat meminta bantuan informan pertama untuk mengetahui sampel lainnya yang memenuhi kriteria yg ditetapkan, biasanya memang informan pertama ini dikenal sebagai key persons. Sedangkan pada strategi pemilihan sampling lain, misalnya convenience sampling, peneliti memiliki akses yang mudah terhadap informan, sehingga peneliti dapat mengambil sampel sesuai kenyamanannya, misalnya informan yang rumah nya terdekat, atau yang saat itu bertemu dengan peneliti (oportunistik). Sehingga alur pemilihan partisipan sangat disesuaikan dengan strategi sampling yang dipilih.
HapusTerima kasih atas penjelasannya Mb Ikeu
HapusSama-sama Mba Eka, terimakasih atas atensinya
Hapusoh iya.. saya nanya lagi boleh ya.. adakah perbedaan perhitungan sample jika metode yang digunakan dengan metode induktif atau deduktif?
BalasHapusTerima kasih pertanyaannya mba Evin, saya coba menjawab,
Hapus- Metode induktif merupakan metode pendekatan dalam penelitian kualitatif. Besar sampel dalam penelitian kualitatif ditentukan oleh saturasi data, artinya bila dalam proses eksplorasi data dari sejumlah pertisipan sudah tidak memunculkan informasi baru (data sudah jenuh) maka proses eksplorasi tidak akan dilanjutkan pada partisipan yang baru. Dengan kata lain, .jumlah partisipan penelitian tidak akan ditambah lagi.
- Metode deduktif merupakan metode pendekatan dalam penelitian kuanitatif, dimana besar sampel perlu ditentukan oleh peneliti melalui perhitungan dengan rumus tertentu disesuaikan dengan masalah penelitian secara statistik. Penentuan besar sampel dalam penelitian kuantitatif bertujuan untuk estimasi jumlah sampel yang dapat mewakili populasi agar hasil penelitian dapat digenerasisakan dalam populasi.
Demikian, semoga bisa menjawab pertanyaan mba Evin.
- Metode deduktif
Untuk Kelp 5...izin hendak bertanya mengenai generalisasi sampel. Di makalah kelompok menuliskan bahwa sampel kualitatif dirancang untuk kemungkinan generalisasi analitik, bukan generalisasi statistik seperti pada riset kuantitatif. Apa maksud dari generalisasi analitik tersebut dan tolong diberikan contohnya. Terima kasih....
BalasHapusTerima kasih atas pertanyaan mbak mila, saya akan coba menjawab. Benar dalam riset kualitatif, generalisasi yang dimaksud adalah generalisasi analitik yaitu generalisasi berdasarkan konsep dan teori. Sampel kualitatif dirancang untuk memungkinkan generalisasi analitik yaitu dapat diterapkan pada teori yang lebih luas tentang dasar bagaimana kasus yang dipilih 'sesuai' dengan konstruksi umum.Menurut pendapat Miles dan Huberman (1994), bahwa pengambilan sampel kualitatif dapat memberikan kesempatan peneliti untuk memilih kasus dan memeriksa pengamatan secara cermat terhadap proses general yang merupakan kunci pemahaman tentang teori baru atau teori yang sudah ada tentang fenomena yang sedang dipelajari tersebut. Jadi bukan seperti dipenelitian kuantitaif yang menggunakan generalisasi statistik dimana hasil penelitian dapat diterapkan untuk populasi yang lebih luas atas dasar perwakilan sampel statistik).
HapusContohnya adalah generalisasi yang dilakukan berdasarkan identifikasi pengalaman atau kejadian yang mendukung konsep dari fenomena. seperti Penggunaan hasil temuan penelitian kualitatif tentang caring yang hasil temuannya mengklarifikasi, memberi penjelasan, verifikasi, atau memperlihatkan kegunaan secara instrumental dari hasil-hasil tersebut. Lalu hasil penelitian kualitatif dapat digeneralisasikan dalam praktik keperawatan dalam bentuk material seperti pedoman praktik, standar pelayanan praktik, alat ukur evaluasi, dan berbagai protokol intervensi.
Sumber:
Afiyanti, Y & Rachmawati, I. N., (2014). Metodologi penelitian kualitatif dalam riset keperawatan. Edisi 1. Jakarta: Rajawali Pers.
Curtis, S., Gesler, W., Smith, G., & Washburn, S. (2000). Approaches to sampling and case selection in qualitative research: Examples in the geography of health. Social Science and Medicine, 50(7–8), 1001–1014. https://doi.org/10.1016/S0277-9536(99)00350-0.
Ijin menambahkan
HapusGeneralisasi analitik mengidentifikasi konsep yang mendukung.
Penelitian kualitatif Rosedale (2009) yang bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman wanita setelah pengobatan kanker payudara dari wawancara mendalam pada 13 wanita dengan kanker payudara yang mendeskripsikan survivor loneliness. Konsep ini didukung oleh penelitian Drogeset dan Colleagues tentang koping pada wanita dengan kanker payudara yang memperoleh pengobatan.
Sumber:
Polit, D.F., & Beck, C.T. Nursing research: Generating and assessing evidence for nursing practice. Wolters Kluwer Health.
Baik sekali pemaparan kelompok 5 tentang sampling dalam penelitian kualitatif.. Izin bertanya pada sampling teoritis akan selalu terjadi penambahan partisipan sesuai dengan konsep yang akan dicari.. Bagaimana prinsip saturasinya dan konsekuensinya adalah terjadi penambahan waktu penelitian, lalu apa indikator bahwa saturasi pada sampling teoritis telah tercapai terimakasih
BalasHapusTerima kasih untuk pertanyaan yang baik sekali dari bu Asmi, Saya akan coba menjawab berdasarkan penjelasan yang bagus tentang sampling teoritis dari Joseph Robert Daniel (2013) sebagai berikut:
HapusTheoretical Sampling, merupakan cara yang diusulkan oleh Glaser dan Strauss untuk menambah kekuatan eksplanatif pada kategori-kategori yang lemah kekuatan eksplanatifnya. Untuk mendapatkan penjelasan yang lebih memadai mengenai segmen fenomena yang diabstraksi dalam bentuk kategori tersebut, peneliti perlu turun kembali ke lapangan, melakukan pengamatan mengenai segmen fenomena, mewawancarai informan-informan kunci, dan mengumpulkan dokumentasi berkaitan dengan segmen fenomena tersebut. Data-data ini kemudian dianalisis, dikodekan, dan dimasukkan ke dalam kategori-kategori yang lemah kekuatan eksplanatifnya tadi. Proses ini dilakukan terus-menerus hingga semua segmen fenomena telah mampu dijelaskan dengan baik, yang nantinya membuat penjelasan mengenai fenomena secara utuh menjadi lebih komprehensif dan memiliki daya.
Berdasarkan penjelasan ini saya mencoba membuat kesimpulan bahwa tujuan dari sampling teoritis adalah menambah kekuatan eksplanatif pada kategori-kategori yang lemah kekuatan eksplanatifnya. Hal ini berarti bahwa sampling teoritis merupakan proses analisis mendalam terhadap data yang telah ada, sehingga sampel yang diperoleh dapat memberikan penjelasan yang terhadap kategori-kategori yang masih lemah. Jadi, yang akan bertamabah adalah jumlah sampelnya bukan partisipannya. Sebagaimana dipahami dalam enelitian kualitatif, yang disebut sebagai sampel adalah data atau informasi yang digali dari partisipan. Adapun saturasi data dalam sampling teoritis akan dicapai apabila peneliti telah mampu membuat penjelasan mengenai fenomena secara utuh menjadi lebih komprehensif dan memiliki daya.
Demikian yang bisa saya jawab, mohon maaf bila belum tepat.
Terimakasih atas pertanyaan dan atensinya Mba Asmi. Mohon ijin menjawab pertanyaan Mba Asmi. Terkait dengan sampling teoritis, menurut Glasser dan Straus (1967) bahwa pada sampling teoritis pengambilan sampel berkembang saat penelitian berlangsung, peneliti memilih sampel berdasarkan konsep dan masalah teoritis yang muncul selama penelitian, sehingga ide teoritis ini akan mengontrol pengumpulan data. Pengambilan sampel teoritis tidak didasarkan pada jumlah populasi, melainkan pada keterwakilan konsep dalam beragam bentuknya. Pengambilan sampel yang dilakukan peneliti dengan cara memilih data-data atau konsep-konsep yang terbukti berhubungan dengan dan mendukung secara teoritik teori yang sedang disusun. Tujuannya adalah mengambil sampel peristiwa/fenomena yang menunjukkan kategori, sifat, dan ukuran yang secara langsung menjawab masalah penelitian. Jadi pengambilan data dilakukan sejalan dengan analisis data. Pada saat analisis, peneliti melakukan constant comparative method, dimana peneliti membandingkan kode-kode, kategori dan konsep yang muncul, dalam setiap analisis data dengan mengacu pada data secara terus menerus. Sehingga hal ini menjadi panduan peneliti mengenai data apa yang masih harus digali selanjutnya, sampai nanti tercapai titik jenuh teoritis atau yang dikenal sebagai theoretical saturation. Yang dimaksud dengan titik jenuh teoritis ini adalah bahwa dengan menambah data baru lagi tidak akan menambah teori atau masukan baru. Jadi seiring dengan proses pengolahan data, peneliti akan mengambil sampel yang sesuai dengan petunjuk dari hasil olah data tersebut. Sehingga pada jenis sampling ini, melibatkan pemilihan unit sampel yang terus berkesinambungan sampai penelitian tiba pada titik jenuh teoritis tersebut. Pada titik jenuh ini, data baru akan lebih bersifat mengkonfirmasi analisis yang ada daripada menambahkan sesuatu yang baru. Sehingga peneliti bisa mengetahui sampel nya sudah mencukupi, jika peneliti sudah sampai pada titik jenuh, ketika data baru tidak menambah kategori/konsep teori yang sedang disusun. Sehingga konsekuensi penambahan waktu penelitian harus diantisipasi, karena pengambilan sampel sangat tergantung apakah peneliti memandang sudah tercapai saturasi teoritis atau belum. Demikian semoga dapat menjawab pertanyaan Mba Asmi. Terimakasih.
HapusSaturasi pada Theoritical sampling dikaitkan dengan pengambilan sampel teoretis untuk grounded theory. Peneliti memilih sampel berdasarkan konsep dan masalah teoritis yang muncul selama penelitian. Pada titik saturasi data, Ketika tidak ada ide baru yang muncul yang bernilai bagi teori yang sedang dikembangkan, pengambilan sampel dapat dihentikan.
HapusHennink, Kaiser, dan Marconi (2016) dalam Aldiabat & Navenec (2018) membedakan dua jenis data saturation:
1. Saturasi kode
Saturasi kode dalam Grounded Theory dapat dicapai pada sembilan kali wawancara, ketika para peneliti "mendengar semuanya”(mendengar semua data yang disampaikan partisipan)
2. Saturasi makna
Saturasi makna dapat dicapai antara 16-24 wawancara, ketika peneliti "mengerti semuanya" (mengerti semua data yang telah ada).
Morse (2015) menyampaikan bahwa peneliti kualitatif harus mencapai keduanya jenis saturasi tersebut untuk menjamin ketelitian dalam meneliti
Sumber : Aldiabat & Navenec (2018). Data Saturation: The Mysterious Step In Grounded
Theory Method.
izin menambahkan penjelasan mbak ade,
BalasHapusIndikator saturasi pada sampling teoritis adalah sudah tidak ada lagi informasi baru atau tidak ada ide baru yang muncul yang bernilai bagi teori yang sedang dikembangkan, Dengan kata lain, peneliti akan mengakhiri pengumpulan data ketika kategorisasi data telah jenuh. Menurut Creswell (2013), penggunaan sampel teoretis diperlukan untuk jenis pendekatan kualitatif pada studi grounded theory. Biasanya pengambilan sampel jenis ini tidak digunakan diawal studi. Pada awal studi, pengambilan sampel menggunakan kriteria sebagai dasar atau pada
situasi yang alami. Selanjutnya, pengambilan sampel secara teoretis dilakukan berdasakan konsep atau teori sementara yang muncul dari data awal penelitian, hingga mencapai saturasi.
Untuk mengendalikan waktu penelitian, maka peneliti perlu memastikan keabsahan data penelitian sehingga data yang diperoleh benar-benar akurat menggunakan metode pengumpulan data yang tepat.